Social Injustice: Mass Offside

Jika sepertiga penduduk menguasai dua per tiga sumber kekayaan seluruh negara atau, sebaliknya, dua dari tiga penduduk hanya memperoleh sepertiga kekayaan negara, itulah kiranya yang disebut sebagai ketidakadilan sosial. Suatu negara boleh saja kaya raya dan pendapatan per kepalanya luar biasa tinggi, tetapi kalau rasio penyebaran kekayaannya seperti itu, negara itu tetaplah negara yang tak adil bahkan terhadap warga negaranya sendiri.

Nabi Amos hidup dalam zaman emas Raja Yerobeam. Dari segi ekonomi mereka kaya raya, dari segi keamanan mereka juga damai tanpa peperangan. Semua orang bisa fokus pada mencari nafkah sebaik-baiknya. Tetapi justru di situlah persoalan yang dilihat Nabi Amos: pencarian nafkah itu menjadi sangat diskriminatif karena setiap orang hanya pikir mengenai dirinya sendiri. Akibatnya, yang kuat semakin kuat dan semakin melemahkan orang yang sudah lemah.

Di dalam tembok kota, orang kaya membangun rumah dan mendapat pasokan makan dan minum dari luar tembok, yang adalah orang-orang miskin tanpa jaminan kenyamanan maupun keamanan hidup. Nabi Amos menggambarkan  orang-orang di dalam tembok kota seperti lembu-lembu Basan (yang di gunung Samaria, ikon kekafiran) yang memeras orang lemah, menginjak orang miskin untuk lifestyle tajir mereka (Am 4:1).

Yesus Kristus lahir dan mati di luar tembok kota. Artinya, Ia memilih hidup dalam ketiadaan jaminan manusiawi dan semata mengandalkan kekuatan Allah sendiri. Ia hidup di antara orang lemah dan miskin.

Lha trus apa ya kita mesti mengikuti Yesus yang hidup sebagai orang miskin, gak punya rumah dan bahkan batu untuk meletakkan kepala? Kayaknya sih gak segitu-gitu amat deh. Kalau mau seperti itu ya mungkin baik, meskipun barangkali gak untuk semua orang (dan mulailah problem jika orang mulai mengklaim bahwa hal itu baiknya untuk orang lain saja, karena dengan begitu orang menciptakan tembok diskriminatif tadi).

kemiskinan-menjadi-penyumbang-faktor-kategori-negara-gagal-_120620135211-137

Kontak dengan kaum miskin dan lemah senantiasa mengingatkan orang bukan pertama-tama untuk menjadi naif (oh syukur Tuhan aku tidak seperti orang ini, syukurlah kami tidak mengalami kemalangan seperti gelandangan ini, dan lain sejenisnya). Kontak dengan kaum lemah miskin mengingatkan orang bahwa aneka prestasi dan kekayaan ekonomis yang dinikmatinya, bisa jadi merupakan bagian dari social injustice. Mereka ini, yang tampaknya paling lemah, justru adalah “anggota tubuh” yang paling dibutuhkan (1Kor 12:22).

Orang tak perlu takabur bahwa capaiannya bersih total dari sistem yang tak adil secara struktural. Dalam aturan main sepak bola ini seperti gol yang tercipta karena offside. Memang gol terjadi, tapi offside. Memang orang sukses meraih impian kekayaan, tapi karena strukturnya tak adil dan mengorbankan lebih banyak orang lain. Sekurang-kurangnya hal ini sudah mengundang orang untuk secara rendah hati mensyukuri hidup tanpa sikap arogan dan diskriminatif.


SENIN BIASA XIII
30 Juni 2014

Am 2,6-10.13-16
Mat 8,18-22

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s