What You Choose Is What You Get

Ada sekelompok orang yang percaya akan cinta pada pandangan pertama, tepatnya: jatuh cinta pada pandangan pertama. Orang seperti ini menantikan masa romantis seperti itu sampai-sampai pada usia tuanya tak juga mendapatkan jodoh. Padahal, sebetulnya semua orang juga tahu bahwa hakikat cinta tidak terletak pada pandangan pertama. Pandangan pertama hanyalah permulaan, dan permulaan cinta tidak harus dimulai pada pandangan pertama (waduh mak jleb).

Petrus adalah murid yang pertama kali menyatakan identitas Yesus dan mungkin bisa dibilang bahwa Petrus jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Yesus (gak ada buktinya sih, tetapi Injil Markus menuliskan bahwa Simon Petrus ini segera meninggalkan jala dan mengikuti Yesus, Mrk. 1,18). Akan tetapi, dari kisah Injil bisa diketahui bahwa cinta Petrus ini senantiasa dikoreksi, diperbaiki, atau dimurnikan bahkan sampai setelah kematian Yesus. Dengan kata lain, Petrus mengalami pertobatan terus menerus untuk sungguh memahami identitas Kristus.

Paulus, sebaliknya, merepresentasikan pribadi yang mulanya menentang identitas Yesus yang diwartakan murid-muridnya. Ia gak punya momen jatuh cinta pada pandangan pertama karena ia tak pernah bertemu langsung dengan sosok Yesus. Tak mengherankan, ia memusuhi keyakinan pengikut Kristus bukan karena kebencian terhadap Kristus, melainkan karena ketidaktahuan, kebutaannya akan sosok Kristus. Seperti Petrus, ia pun mengalami pertobatan mendalam juga melalui kebutaan fisiknya.

Dengan demikian, Petrus dan Paulus menjadi ikon kemuridan yang sempurna: berani secara lantang menyatakan identitas Kristus (bdk. bacaan Injil) dan menghayati identitas itu sampai tuntas, sampai ajal (bdk. bacaan kedua). Petrus menjadi rasul bangsa Israel dan Paulus menjadi corong bagi bangsa-bangsa lain. Petrus adalah murid sederhana dan Paulus adalah murid yang terpelajar dan begitu mendalam.

Lah, trus apa hubungannya dengan judul posting ini je, Romo?
Apa harus memilih Petrus atau Paulus, begitu? Jelas tidak, wong hari raya mereka juga diperingati bersama-sama. Judul itu diletakkan karena hari ini disodorkan Surat Gembala KWI menyambut pilpres 9 Juli 2014! Lha hubungannya apa sama Petrus dan Paulus itu?

choose1Hubungannya terletak pada anjuran para uskup untuk memilih secara bertanggung jawab berlandaskan suara hati! Bukan apa kata orang yang diinginkan Yesus, melainkan apa kata hatimu!

Petrus menyatakannya atas dasar perjumpaan inderawinya dengan Yesus. Tentu landasan ini terus menerus dikoreksi dalam perjumpaan berikutnya. Paulus lebih punya kedalaman karena suara hatinya didominasi oleh perjumpaan batin yang menyentuh juga dimensi fisiknya. Paulus tidak goyah lantaran dunia inderawi terus menderanya sampai akhirnya ia mati dibunuh, seperti Petrus juga.

Kekuatan Petrus dan Paulus kiranya disokong oleh doa yang tiada henti (bdk. bacaan pertama) dari para jemaat mereka yang setia. Kekuatan itu memungkinkan komitmen yang semakin kokoh untuk lebih memilih Yesus Kristus daripada kuasa-kuasa dunia lainnya: uang atau jabatan politik. Memilih Yesus Kristus itu akan tampak juga dari pilihan-pilihan hidup sehari-hari: memilih capres yang begini atau yang begitu. Jika capres ini yang dipilih, karakter-karakter capres itu jugalah yang didapat nantinya. Manakah yang lebih konkruen dengan karakter Kristus?

Untuk saya jelas, untuk Anda?


HARI RAYA SANTO PETRUS DAN PAULUS
Minggu, 29 Juni 2014

Kis 12,1-11
2Tim 4,6-8.17-18
Mat 16, 13-19

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s