Latihan Doa 28: Perjalanan Hidup Rohani

1. Persiapan Doa (5-15 menit)

Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
Mzm 23 (Tuhanlah gembalaku)
Kej 12,1-9 (Perjalanan Abraham)
Luk 24,13-35 (Perjalanan murid ke Emmaus)
Mat 10,1-20 (Misi kelompok dua belas murid)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)

Doa persiapan:

Tuhan Yesus, aku mohon rahmat kelembutan hati dan ketaatan supaya bisa selalu belajar memilih jalan yang menuntunku kepada Bapa, karena percaya bahwa sebagai gembala yang baik, Engkau selalu di sampingku dan membimbingku.

2. Doanya sendiri (20-60 menit)

  • Seperti apakah perjalanan rohaniku menuju kepada Allah? Secara khusus, jalan besar apa yang telah kuambil yang telah menuntunku sampai sekarang ini bersama Dia?
    Ambillah waktu untuk menamai dan mengklarifikasi jalan besar dan jalan-jalan cabang yang menuntunku kepada Tuhan.
  • Doakanlah Mazmur 23.
    Dalam perjalanan menuju Tuhan itu, apa kiranya “padang rumput yang hijau” dan “air yang tenang” itu bagiku?
    Sebutlah dan jelaskan!
  • Apakah “lembah kelam” bagiku? Sebutkan dan jelaskanlah!
  • Siapa sajakah rekan peziarah khusus yang diberikan kepadaku dalam perjalanan menuju Tuhan itu? Bagaimana mereka telah membantuku menemukan jalan kepada Tuhan?
    Ambillah waktu untuk mendoakan teman peziarahanku itu.
  • Berikut ini sebuah doa dari Thomas Merton yang menggambarkan perjalanannya menuju Tuhan. Ambillah teks doa itu dan doakanlah dengan hati penuh semangat:
    Ya Allah, Tuhanku, aku tak tahu ke mana aku pergi.
    Aku tak melihat jalan di depanku.
    Aku tak tahu pasti di mana jalan di depanku akan berakhir; pun tak sungguh-sungguh memahami diriku sendiri.
    Meskipun aku pikir aku sedang mengikuti kehendak-Mu, tidak berarti bahwa aku senyatanya sedang melakukan hal itu.
    Akan tetapi, aku percaya bahwa hasrat untuk menyenangkan-Mu saja sudah menyenangkan Engkau.
    Dan aku harap aku memiliki hasrat dan semangat dalam segala hal yang kulakukan.

    Aku harap aku takkan pernah melakukan sesuatu terlepas dari hasrat itu.
    Dan aku tahu bahwa jika aku melakukannya, Engkau akan menuntunku di jalan yang benar meskipun aku mungkin tak tahu apa-apa tentang hal itu.
    Karena itu, aku akan selalu percaya pada-Mu meskipun aku tampak tersesat dan dalam bayang-bayang kematian.
    Aku takkan takut. Aku takkan khawatir, karena Engkau selalu bersamaku dan takkan pernah meninggalkan aku menghadapi bahaya sendirian. Amin.

  • Dalam doa itu, Merton bicara soal memilih untuk selalu memercayai Tuhan.
    Kapankah masa-masaku mendapati Tuhan paling kupercaya?
    Apa yang membuatku percaya bahwa Tuhan memang sosok terpercaya dalam relasiku dengan-Nya?
    Kembalilah ke masa-masa itu dan nikmatilah dalam doa.

Melakukan wawancara batin

Mengimajinasikan Kristus yang bergantung di salib dan berdialog mengenai poin-poin perjalanan dan kepercayaan kepada Tuhan tadi.
Mohon berkat Allah dan akhiri dengan rasa syukur yang tulus atas penguatan Allah dan rahmat penghiburan, dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.

3. Refleksi (5-15 menit)

Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s