Joged karena Bayi Tabung?

Ada dua pasangan suami istri yang kaya raya dan sekian lama tak punya momongan, padahal sudah segala daya upaya dilakukan. Yang satu akhirnya mengikuti proyek bayi tabung (in vitro fertilization) dan yang lain pergi mencari air Ignasius (yang konon membantu mereka yang menantikan kelahiran anak). Kedua perempuan itu ternyata kemudian hamil dan pergi ke rumah sakit yang sama dan sama-sama melahirkan anak yang unyu-unyu, sehat walafiat. 

Perempuan manakah yang bergembira karenanya? Dua-duanya!
Perempuan manakah yang lebih bersyukur? Yang gak ikut program bayi tabung! 
Kok isa?
Lha iya, wong bayar jauh lebih murah dan dapat bayi unyu-unyu… haha… 

Rasa syukur yang sejati muncul ketika roh orang connect dengan Tuhan Sang Pemberi Kehidupan, bukan ketika orang bisa memenuhi apa yang diinginkannya. Bahkan meskipun peserta program bayi tabung senantiasa mohon bantuan Tuhan, ia tetaplah mengeksekusi utak-atik-otak manusia untuk menciptakan manusia baru. Proses seleksi tidak dibuat secara alamiah, tetapi melalui rekayasa atau intervensi manusia dan teknologi.

Prosedur itu bertolak belakang dengan prosedur yang dialami Hanna dan Maria. Hanna jelas menginginkan anak dan mohon intervensi Allah sendiri. Maria, belum berpikir soal punya anak, tetapi intervensi Allah membuatnya mengandung. Follow up rasa syukur Hanna atas kelahiran Samuel ialah menyerahkan Samuel pada kehendak Allah sendiri: terserah Tuhan mau apa dengannya. Follow up Maria ialah menyanyikan lagu pujian dan berjoged (halah… kayak Romo liat aja waktu dia njoged)! 

Intervensi teknologi bayi tabung akan mengarahkan decak kagum orang pada kehebatan manusia, sedangkan pujian dan tarian Maria mengundang orang untuk melihat karya Allah.
Kidung magnificat (baca: manyifikat; – dah tau, Mo! – Bodo’) mengundang kita untuk melihat betapa besarnya Tuhan dalam kenyataan hidup kita yang kecil ini.
Kidung magnificat mengajak kita untuk mengerti bahwa orang yang punya kuasa bisa berbuat apa saja yang mereka mau karena mereka punya kuasa, tetapi ‘apa saja’ itu tak punya nilai bagi Allah.

Haiya, pegawai pajak bisa mencari-cari kesalahan warganya demi mengejar setoran; konglomerat bisa terus menambah hutangnya untuk proyek baru; PNS bisa pikir perutnya sendiri daripada berbakti pada negeri; tapi itu tak ada nilainya di hadapan Allah.

Di hadapan Allah, nilai itu ada pada orang rendah hati seperti Hanna dan Maria, yang tahu posisinya di dunia ini (mau tahu soal rendah hati menu biasa, kliknya tuh di sini, mau yang sedang di sini, yang paling heboh di sini).


HARI KHUSUS ADVEN
Senin, 22 Desember 2014

1Sam 1,24-28
Luk 1,46-56

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s