Born to Be Alive…

Ada lagu disco jadul Patrick Hernandes dengan lirik yang sangat sederhana: born to be alive. Mungkin kalo Nikodemus datang malam-malam kepada Yesus di awal tahun 1980 dan bertanya, “Gimana mungkin orang bisa lahir kembali, masuk ke rahim ibunya gitu?”, Yesus akan menjawab, “Born to be alive, brow!”

HappinessMemang jawaban Yesus itu akhirnya juga terwujud dalam kehidupan Nikodemus sendiri. Nikodemus adalah orang Farisi, pemimpin agama, anggota mahkamah agung yang datang kepada Yesus secara diam-diam. Rahmat dalam dirinya yang begitu kecil ‘seperti biji sesawi’ itu lama-kelamaan berkembang juga sehingga ia pun perlahan-lahan berani menerima Kristus juga secara publik.

Nikodemus datang kepada Yesus bukan untuk omong soal politik, apalagi seperti masa persiapan pilpres begini. Ia datang untuk konsultasi bagi keselamatan jiwanya. Ia sadar bahwa Yesus adalah guru yang datang sebagai utusan Allah dan Allah tentu bersama dia karena kalo tidak, gak mungkin ia bisa melakukan aneka mukjizat. Yesus malah menegur Nikodemus, “Gak cukup mengagumi mukjizat yang kubuat, kamu harus lahir kembali.”

Nikodemus gak bakal dapat sesuatu hanya dengan mengakui dan menyanjung Yesus sebagai Mesias atau nabinya. Gak cukup perubahan mental atau sikap, orang perlu mengakomodasi perubahan roh. Mangsudnya, hidup orang mesti didasarkan pada kekuatan roh yang ada dalam dirinya. Lahir kembali kan butuh pondasi, lha pondasinya ya roh itu tadi, bukan hal-hal yang selama ini sudah dijadikan pegangan oleh orang seperti Nikodemus ini.

Kelahiran setiap orang memang terbatas oleh daging, dan karena itu perlu kelahiran dalam roh. Nikodemus gak nangkep frase lahir kembali karena dia belum terbiasa dengan sudut pandang Kristus: memandang dunia sebagaimana Allah memandang dunia. Ini bukan dunia yang sensual semata, yang bisa ditangkap dengan kelima atau mungkin keenam indera. Ini adalah dunia yang menjadi medan ‘permainan’ Allah. Lahir kembali berarti orang punya prinsip hidup yang klop dengan permainan Allah itu, dan di situlah mimpi-mimpi, cita-cita, hasrat orang nyambung dengan kebahagiaan dan kemerdekaan.

Oktaf Paska telah berlalu dan liturgi Gereja Katolik mengajak orang untuk melakukan verifikasi terus menerus apakah ia sungguh bangkit bersama Kristus. Orang diajak untuk introspeksi diri apakah ia sungguh-sungguh menjadi ciptaan baru, dengan pengakuan rendah hati (tahap pertama) bahwa Allah pencipta segala sesuatu melalui Roh Kudus-Nya dan orang dari saat ke saat diundang untuk menyadari gerak Roh yang menciptanya.


HARI SENIN PASKA II

Kis 4,23-31
Yoh 3,1-8

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s