Lahir dari Loteng?

Dalam tradisi aneka agama kerapkali dihayati ilmu gothak-gathuk yang mengasosiasikan gejala alam dengan simbol agama yang dipakai untuk meneguhkan kebenaran agama penganutnya. Ada buah yang di dalamnya terukir tulisan Allah dalam Bahasa Arab (yang nota bene sebetulnya sama sekali tidak identik dengan Islam), ada situs tempat tertentu yang bentuknya menyerupai wajah Yesus (yang sebetulnya tak seorang pun punya fotonya untuk cross-check). Tentu saja itu naif, tetapi barangkali yang perlu dilihat adalah apa yang ada di balik kenaifan itu: orang memiliki kerinduan untuk berjumpa dengan Yang Transenden melalui bahkan fenomena alam.

Orang-orang di Yerusalem percaya kepada Yesus karena tanda-tanda yang dibuatnya: mengubah air jadi anggur, memperbanyak ikan dan roti, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan membangkitkan orang mati. Nikodemus yang datang kepada Yesus malam-malam (demi sebuah political correctness) kiranya juga melihat tanda-tanda yang dilakukan Yesus itu, tetapi baginya, semua tanda itu hanya mau mengatakan bahwa ia adalah seorang guru hebat utusan Allah. Maklum, Nikodemus adalah orang terpelajar dan pemuka agama yang reputasinya juga bergantung pada guru besar mana yang diikutinya. Tak heran bahwa ia tertarik untuk datang kepada Yesus yang rupanya pada saat itu memiliki kebijaksanaan dan kemampuan yang tak dimiliki guru-gurunya sendiri.

Nikodemus bukan orang jahat. Pendekatannya terhadap Yesus juga dilandasi niat baik. Akan tetapi, ia gagal paham terhadap hubungan antara “tanda-tanda heran” yang dibuat Yesus dan keselamatan yang datang dari Allah, alias keselamatan kekal. Yesus bicara mengenai keselamatan abadi (dari Allah), tetapi Nikodemus, ing atase (bahkan meskipun) cendekiawan Yahudi, tak bisa memahami perkataan Yesus yang diredaksi oleh penulis Injil Yohanes. Kata ἄνωθεν (anothen) dalam Bahasa Yunani bermakna ganda: (1) kembali/lagi dan (2) dari atas. Lha, sewaktu Yesus bilang bahwa orang gak bisa selamat kalo’ gak dilahirkan “kembali”, itu sebetulnya juga berarti orang takkan diselamatkan jika ia tidak dilahirkan “dari atas”. Tapi karena Nikodemus cuma pikir yang bawah-bawah, dia menangkap pernyataan Yesus itu aneh bin ajaib: mana mungkin orang berumur kok masuk ke rahim ibunya kembali?! Ya kalau ibunya masih hidup!

Nikodemus cuma menangkap konsep kelahiran dalam tataran fisik. Maka, pahamnya tentang Yesus sebagai utusan Allah tidaklah memadai (maklum, kan dia bukan orang Kristen). Orang Kristen mengimani bahwa Yesus Kristus bukan semata utusan Allah, melainkan Allah yang memanifestasikan diri dalam pribadi manusia (sebagaimana Islam memercayai Kitab Suci sebagai Sabda Allah sendiri; begitu juga halnya Taurat bagi agama Yahudi). Tentu ini juga adalah hasil ilmu gothak-gathuk, tetapi gothak-gathuknya ini dipertanggungjawabkan, diverifikasi dengan pengalaman autentik. Verifikasi untuk Yesus Kristus yang lebih dari sekadar utusan Allah ialah kebangkitan-Nya.

Sayangnya, kebangkitan itu adalah peristiwa iman yang tak bisa dibuktikan dengan pikiran yang bawah-bawah seperti dimiliki Nikodemus tadi. Yang lahir dari fisik ya senantiasa fisik; kalau mau dimensi nonfisiknya hidup, ya orang mesti menata diri: membiarkan dirinya lahir dari “air dan roh” dan ini pasti tidak sesimple baptis selam dengan aneka seruan teologis berbuih-buih mengenai Kristus di kolam renang, hehe… (gagal paham terhadap baptisan di kolam renang saat dipakai publik).


HARI SENIN PASKA II
13 April 2015

Kis 4,23-31
Yoh 3,1-8

Posting Tahun Lalu: Born to Be Alive