Real-Time Heaven

Globalisasi sekarang ini dicirikan oleh speed yang luar biasa: seseorang di gang buntu pada sudut kampung Yogyakarta bisa ngobrol langsung dengan teman atau sanak keluarga di dekat Red District di Amsterdam. Memang ada delay sedikit tetapi toh bisa disebut sebagai komunikasi real-time. Orang tak harus menunggu berjam-jam, berhari-hari, apalagi berbulan-bulan untuk berkirim kabar. Tak mengherankan, generasi mudanya juga cenderung apa-apa saja maunya real-time, karena teknologi memang mendukung hal itu. Menunggu adalah siksaan. Anehnya, “apa-apa saja” itu kok ya gak mencakup Tuhan, hidup kekal, atau surga ya? Kalau berhadapan dengan urusan surga atau hidup kekal, orang cenderung menempatkannya nanti belakangan setelah orang mengalami kematian fisiknya. Padahal surga dkk itu juga real-time loh!

Kemarin disodorkan sosok Nikodemus sebagai representasi orang-orang Yahudi yang tidak memahami ajaran Yesus mengenai perlunya  kelahiran rohani yang baru, kelahiran “dari atas”. Hari ini Nikodemus mempertanyakan bagaimana kelahiran dari atas itu bisa terjadi dan Yesus malah balik bertanya: apakah kamu orang terpelajar Israel yang tidak mengerti hal-hal ini? Orang terpelajar Yahudi kiranya paham teks Yesaya 44:3-5, Yehezkiel 37:9-10, dan Kitab Amsal 30:4-5, yang memakai konsep-konsep seperti yang disodorkan Yesus. Mari lihat dua konsep yang tampaknya kontras: hal-hal duniawi dan hal-hal surgawi.

Apakah yang dimaksudkan dengan hal-hal duniawi? Menurut studi teks yang lebih teliti, sesuatu disebut duniawi bukan semata-mata karena ciri ‘fisik’, melainkan juga karena tempat ada atau terjadinya itu di dunia ini. Jadi, hal-hal duniawi gak terbatas pada benda-benda fisik, tapi mencakup juga bahkan hal-hal rohani yang ada atau terjadinya di dunia ini. Kalau begitu, beribadah, berdoa, menjalankan perintah agama itu termasuk hal-hal duniawi dong? Iya, betul!!! Loh, trus berarti itu malah semakin menegaskan bahwa hal-hal surgawi itu adanya nanti setelah kematian fisik ini. Kalo gitu, gak betul juga dong istilah surga real-time! Surga gak mungkin real-time (begitu juga Tuhan, keselamatan kekal, dlsj): itu nanti setelah kiamat.

Hmm… Nikodemus gak sebodoh yang dikesankan dalam tulisan Yohanes. Dia melihat ketidakmungkinan hal-hal surgawi terhubung dengan hal-hal duniawi; dia tidak melihat kemungkinan bahwa hal-hal surgawi itu masuk ke dunia. Artinya, bahkan aneka amal ibadah, puasa, ziarah, novena, devosi, Ekaristi, baptisan, doa syahadat, meditasi, sembahyang lima waktu dan lain semacamnya itu tetaplah duniawi dan tidak mengakomodasi hal-hal surgawi apapun!

Nikodemus sangat kritis dan melihat persoalan besar hidup umat beragama: umat beragama paling jauh hanya akan tiba pada formalisme yang tak menjamin apa-apa untuk hidup surgawi (kalau ada). Ini klop dengan fakta bahwa tak sedikit umat beragama yang justru bertindak inkonsisten: menggunakan kekerasan untuk mewujudkan klaim keselamatan universal! Orang yang rajin berdoa pun bisa jadi korup, lalim, dan antisosial. Baptisan pun bisa jadi show off, sebagaimana halnya aneka kegiatan rohani lainnya dipertahankan demi keuntungan finansial!

Nikodemus adalah representasi orang Yahudi (terpelajar) yang gagal paham terhadap tanda yang menghubungkan hal surgawi dan duniawi. Omongan Yesus yang metaforis “sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3,14-15) tentu tak dipahaminya (wong saat mereka ngobrol peristiwa salib belum terjadi!). Persis di situlah jawaban pertanyaan Nikodemus: hal-hal surgawi masuk ke dalam dunia melalui penderitaan salib (Kristus sendiri) dan hanya jika orang percaya pada salib itu, ia akan selamat, terhubung dengan surga secara real-time.

Tentu saja, seperti komunikasi real-time masih memungkinkan adanya sedikit delay, surga real-time juga memberi tempat bagi kegalauan atas penderitaan dan kesusahan hidup fisik sehari-hari. Orang bisa susah karena aneka kejahatan yang menimpanya tetapi jika ia percaya pada salib (baca: titik awal kebangkitan), ia tak berlama-lama dengan kesusahan hati: ia pasrah pada Yang Maha Penyelenggara. Jadi, lahir dari atas bukan soal dibaptis menjadi penganut agama apa pun, melainkan soal terhubung, berelasi, dikuasai oleh proyek keselamatan abadi dari Allah: datangnya dari Allah, bukan jerih payah manusia semata dengan aneka teknik doa, meditasi, dll.


SELASA PASKA II
14 April 2015

Kis 4,32-37
Yoh 3,7-15

Posting Tahun Lalu: Kristenisasi Yang Nonsense

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s