Kristenisasi Yang Nonsense

Di sebuah toko buku, seseorang pernah mendatangi saya dan dengan sopan bertanya apakah saya punya sedikit waktu untuk bicara. Saya tidak kenal orang ini, saya memberi isyarat bahwa saya agak terburu-buru, tetapi orang ini memberi jaminan bahwa ia hanya ingin bicara sekitar tujuh menit. Curiosity saya muncul dan akhirnya saya diajaknya turun ke cafe di lantai bawah toko buku itu dan dipesankanlah saya minuman.

Tidak saya duga, orang ini mengeluarkan sebuah buku tebal dari tasnya, dan membukakannya bagi saya. “Silakan Mas baca ayat ini,” orang itu menunjukkan sebuah ayat Kitab Suci, yang jelas saya tahu itu Kitab Suci kristen. Saya menuruti permintaannya, dan setelah selesai membacanya saya kembalikan Kitab Suci itu kepadanya. “Apa tanggapan Mas mengenai ayat itu?”
Wah…jarang-jarang dosen Kitab Suci saya bertanya seperti itu kepada saya dan saya sadar bahwa orang ini sedang berupaya melakukan ‘proselitisme’ terhadap saya. Saya menyampaikan tanggapan saya mengenai ayat itu dan ia langsung membantah. Sudah tak saya ingat lagi ayat yang mana dan argumentasi apa yang disodorkannya kepada saya, tetapi jelas ia hendak menarik saya untuk melakukan apa yang diinginkannya.

Benar, dia menginginkan saya ikut kebaktiannya. Sudah saya jelaskan bahwa saya Katolik, saya calon pastor, dan saya sudah mempelajari bagian Kitab Suci yang dia tunjukkan kepada saya. Tetapi pernyataan itu tak berarti apa-apa baginya, seolah berkata,”Terserah Anda pastor atau apa, Yesus pun akan saya kristenkan menjadi anggota gereja saya!” Curiosity saya masih belum hilang sehingga akhirnya memang saya mengiyakan ajakannya untuk ikut kebaktian di gerejanya. Sekali-sekali, ada baiknya juga tahu apa yang dilakukan di Gereja lain.

Saya mendapati perbedaan besar dalam kebaktian itu, tetapi yang menarik saya ialah bahwa anggota Gereja ini, yang waktu itu tidak lebih dari 50 orang, berusaha mempertahankan orang-orang yang telah mereka ‘jaring’ supaya terus ikut dalam kegiatan kebaktian mereka. Mereka juga berupaya merekrut orang-orang baru seperti saya. Kiranya kelompok ini mengidealkan suatu komunitas jemaat perdana yang digambarkan dalam bacaan pertama hari ini.

Akan tetapi, saya kira mereka memilih metode yang keliru dalam ‘merekrut’ anggota baru. Kristenisasi sebagai ‘proselitisme’ saya kira pada zaman ini kurang tepat. Itu seperti Mahatma Gandhi yang meskipun sangat tertarik pada sosok Yesus, tidak punya ide sedikit pun untuk menjadi Kristen justru karena penjajah Inggris adalah orang-orang Kristen.

Yesus tidak melakukan ‘proselitisme’. Ia mengajak orang untuk memberikan diri kepada kuasa Roh yang cara kerjanya seperti air dan angin. Seperti air karena Roh membersihkan, menyucikan batin orang. Seperti angin karena Roh itu membebaskan dan kerjanya seperti ‘arbitrer’, ke mana Ia mau bergerak supaya orang terpaut kembali kepada Allah; bisa bekerja secara tersembunyi, tak tertebak dari dan ke mana.

Yesus mewartakan kebenaran yang pasti diketahuinya: kebenaran yang melekat pada hidupnya. Ia juga omong mengenai kebenaran dengan bahasa sehari-hari (kalau tidak, gimana orang bisa ngerti? Dengan bahasa sehari-hari aja belum tentu orang ngerti!) yang seharusnya bisa ditangkap orang: kesaksian hidupnya. Itulah kristenisasi: membiarkan pertobatan terjadi sebagai kinerja Roh, hidayah dari Allah, dan bukan modus atau akal-akalan bulus orang.

Kristenisasi yang sebenarnya adalah suatu evangelisasi, menaburkan benih kabar gembira dengan kesaksian hidup yang didasari oleh gerak Roh.


HARI SELASA PASKA II

Kis 4,32-37
Yoh 3,7-15

6 replies

  1. membaca refleksi harian di sini mencerahkan,
    seringkali membuat “mak jleb”,
    kadangkala tambah pengetahuan dengan bahasa yang ringan, sip sip sip

    Like