Tanpa Passion Jadi Pasien Doang

Gereja Katolik hari ini memestakan Santo Fransiskus Xaverius. Tentu bukan untuk menjelek-jelekkannya. Ia sampai di kepulauan Maluku pada sekitar pertengahan abad XVI bersama para saudagar Portugis (sebelum gerakan zending kaum protestan sampai di sana). Konon, ia membaptis ribuan penduduk Maluku dalam waktu satu bulan saja! Fransiskus membangun jemaat Gereja Katolik dalam waktu yang relatif singkat. Hebat? Biasa aja… easy come easy go. Banyak dari mereka akhirnya menjadi Protestan ketika gerakan zending Kristen tiba di sana.

Itu mengapa orang tak perlu khawatir mengenai islamisasi atau kristenisasi (klik di sini). Jumlah mualaf atau jemaat Gereja baru yang meningkat bukan jaminan bagi kualitas relasi pribadi orang dengan Allah. Lihatlah media menyinggung hal ini dengan berita-berita artis yang pindah agama, misalnya. So what gituloh? Apa kalau seorang intelektual pindah jadi Buddhis lantas orang Buddhis lainnya jadi intelektual, begitu? Apa kalau pemain sepakbola hebat menjadi mualaf lantas umat muslim lainnya juga jadi pesepakbola handal, begitu? Pasti tidak, kan? Apa kalau tokoh muslim hebat berpindah jadi Katolik lalu agama Katolik jadi hebat, begitu?
Ya bukan gitu, mas brow, tapi kan sekurang-kurangnya kalau umat bertambah, semakin mantaplah kebenaran agama kita.
Wuaaa ini, malah paralel dengan “semakin banyak orang korupsi, semakin dibenarkanlah itu korupsi”! Kebenaran kok pake banyak-banyakan alias voting!

Fransiskus Xaverius memang membaptis banyak orang, tetapi bukan banyaknya baptisan itu yang layak dihargai. Ia pantas dihargai karena semangat-jiwa-desire yang meluap-luap dalam dirinya untuk membawa semakin banyak orang pada Allah sendiri: ia mempelajari bahasa orang lain, mengoreksi suara hati, membimbing orang untuk berdoa, dan sebagainya. Jiwa macam ini memantik jiwa orang lain.

Orang tua, misalnya, perlu menemukan passion dan memupuk passion anaknya, bukan malah membuat pagar-pagar yang mematikan jiwanya. Orang tua seperti ini tahu benar bagaimana mengapresiasi anaknya yang kalah dalam lomba dan tetap memantik motivasi anak untuk terus menyalurkan passion atau nyawa dalam kegiatannya. Tidak berhenti di situ, orang tua juga sewajarnya memberi orientasi anak untuk menghubungkan pengalaman suka dukanya dengan kebaikan Allah sendiri. Itulah kristenisasi (kalau agama mereka kristen) atau islamisasi (kalau agama mereka islam).

Runyamnya, orang tua gak bisa memupuk passion anaknya kalau dia sendiri gak menunjukkan passionnya.


PESTA S. FRANSISKUS XAVERIUS (SJ)
(Rabu Adven I)
3 Desember 2014

1Kor 9,16-19.22-23
Mrk 16,15-20

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s