Tuhan Tandingan

Gubernur Ahok mungkin perlu diingatkan bahwa sindiran yang dilontarkannya (klik di sini) memang sedang terjadi. Tanpa diminta, banyak orang menyiapkan diri sebagai tuhan tandingan dengan aneka wujud: capres tandingan, DPR tandingan, gubernur tandingan; apa-apa saja tandingan (tapi dalam pertandingan bal-balan sesungguhnya malah dipermalukan negara yang tak punya tradisi sepak bola)!

Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan umat beriman untuk tidak takabur, apalagi kalau sudah masuk ranah ketuhanan. Sikap takabur ini menuntun orang pada fundamentalisme agama. Lha emangnya kenapa dengan fundamentalisme? Ada masalah? Ada brow: Roh Tuhan pada dirinya hanya tampak sebagai dimensi yang tremendus alias menakutkan, Roh hikmat dan pengertiannya jadi semakin picik, Roh nasihatnya jadi sumber kesesatan dan perpecahan, Roh keperkasaannya jadi biang kekerasan hati, Roh pengenalan dan takut akan Tuhan-nya jadi penebalan muka temboknya.

Dalam hidup batin orang yang korup itu tak ada rasa takut akan Tuhan. Lha ya jelas dong, namanya juga sedang bikin Tuhan tandingan, mosok takut sama Tuhan beneran? Kelompok inilah yang dimaksud dalam bacaan hari ini sebagai orang bijak dan orang pandai: dengan segala kepiawaian dan kepandaiannya mereka hendak mengejar kekuasaan terhadap orang lain. Konspirasi itu sangat mungkin disusupi juga dengan uang. Orang yang ber-Tuhan tandingan ini sangat yakin bahwa uang bisa membereskan segalanya. Maka, untuk ngemplang orang banyak, orang ini tak malu juga berhutang.

Tuhan beneran tak bekerja dengan modal hutang untuk ngemplang. Orang yang ber-Tuhan beneran itu tak takut pada Tuhan tandingan, bukan karena ia mengejar kuasa dengan modal hutang, melainkan karena ia membiarkan dirinya menjadi ajang performance bagi Roh Tuhan sendiri. Ia tidak memaksakan pengertiannya sendiri, tidak memaksakan kebenaran versinya sendiri, melainkan membiarkan Roh itu sendiri bekerja mendobrak kepicikan orang lain: dengan doa tiada henti.

Jadi? Biarkanlah Tuhan beneran itu bekerja lewat sepak terjang kita. Bagaimana? Ya dengan mensinkronkan sepak terjang kita dengan suara hati; menyatakan salah apa yang memang salah dan menghayati kebenaran yang muncul dari Roh yang berdiam dalam hati. Aneka kebenaran yang munculnya bukan dari sana pada dasarnya adalah suatu penyelewengan alias penyesatan dan kelihatan deh Tuhan tandingan: dalam diri orang yang hopeless, tanpa harapan, tanpa iman, dan tanpa cinta.


SELASA ADVEN I
Peringatan Martir
Santo Edmund Campion, Robertus Southwell, dkk (SJ)
2 Desember 2014

Yes 11,1-10
Luk 10,21-24

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s