Jangan Takabur, Bray!

Hari ini ada kisah menarik mengenai karakter yang sangat energik, penuh antusiasme, pekerja keras dan kepercayaan diri yang tinggi: Petrus! Dia orang yang piawai di danau, dia ahli menangkap ikan, dia tahu titik-titik mana ada banyak ikan (padahal susah membuat titik pada air!) dan kapan ikan itu bisa dijala. 

Suatu siang, dalam kelelahan dan kekecewaan karena semalam-malaman tak mendapatkan seekor ikan pun, Petrus membereskan jala di tepi pantai. Orang dari daratan yang bernama Yesus itu datang dikerumuni banyak orang. Ia minta izin Petrus memakai perahunya untuk berdiri dan memberi pengajaran (dengan begitu suaranya bisa terdengar lebih jelas dan keras bagi orang banyak karena terpaan angin dari danau). Petrus tak keberatan. Ia melanjutkan beres-beres jalanya bersama yang lain sementara mendengar Yesus omong bla bla bla. Tak lama, setelah ia selesai membereskan jala, Yesus meminta Petrus supaya menolakkan perahunya ke tempat yang dalam.

Lihatlah reaksi Petrus! “Asem, kamu sepertinya memang guru bagi banyak orang; tapi, danau ini wilayahku! Ini adalah hidupku, suka dukaku di sini. Aku tahu persis bagaimana menjala ikan di sini lebih dari siapapun.” Yesus tetap memintanya untuk ke tengah dan Petrus semakin emosional, “Woeee…semalam-malaman kami bekerja dan hasilnya nihil!” Petrus tidak menghina Yesus atau merendahkan kemampuan Yesus, meskipun dalam hatinya bisa jadi begitu, tetapi ia menegaskan otoritas pengetahuan dan pengalamannya di danau itu. Karena itu, secara sinis dia melakukan permintaan Yesus, “Tetapi karena Guru menyuruhnya, okay… kita lihat saja!”

Hati Petrus bergejolak dalam menanti pembuktian dirinya sebagai sosok yang pengetahuannya tak terbantahkan di situ. Ia ingin melihat sosok yang disebut orang-orang sebagai Guru itu mengerti bahwa dia, Petrus, meskipun tak dikerumuni banyak orang, adalah pribadi yang patut diperhitungkan karena kompetensinya! Sebagai nelayan, ia jauh lebih kompeten daripada Yesus yang adalah tukang kayu.

Apa lacur? Ternyata mereka mendapat banyak ikan!
Petrus pun tersungkur menghempaskan arogansinya di hadapan Yesus. Pengalaman Petrus ini juga direfleksikan Paulus: Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat.

Tuhan, semoga kami Kaubebaskan dari kepicikan hati dan budi atas aneka gagasan kami mengenai diri kami sendiri maupun diri-Mu.


KAMIS BIASA XXII
4 September 2014

1Kor 3,18-23
Luk 5,1-11

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s