Menanti Timpukan Batu

Hari ini mungkin orang yang berkepala batu boleh besar kepala karena dua bacaan hari ini terhubung dengan kata batu. Tuhan diumpamakan sebagai gunung batu yang kekal dan orang bijaksana diumpamakan sebagai orang yang membangun rumahnya di atas batu. Nah, apakah metafora ini cocok untuk orang berkepala batu, tampaknya perlu dilihat sedikit lebih jauh.

Metafora Tuhan sebagai gunung batu yang kekal dijadikan dasar bagi orang untuk memercayai-Nya tanpa syarat. Orang tak perlu takut memercayai-Nya: takut dikhianati, ditipu, PHP, diselingkuhi, dan sebagainya. Dari sudut pandang manusia, relasi cinta kepada Tuhan memberi ruang bagi pengkhianatan dll, tetapi Tuhan tak akan memanfaatkan ruang itu. Sebaliknya, dari sudut pandang Allah, relasi cinta-Nya kepada manusia memberi ruang bagi PHP itu, dan manusia mungkin memanfaatkannya.

Tak ada ketakutan dalam Cinta, bahkan meskipun memuat potensi pengkhianatan. Ketakutan merajut aneka konspirasi untuk membuat teror terhadap orang lain, sedangkan cinta memberi ruang pada kerapuhan dengan harapan pada pertobatan. Cinta ini tak bisa dihayati dengan sekadar mengadopsi jargon-jargon suci (Tuhan, agama, moral) yang diterima sebagai sekumpulan aturan atau perintah yang harus ditaati. Cinta ini seumpama bangunan rumah yang ditambatkan pada batu pondasi yang kokoh.

Keras dan sulitlah membangun pondasi pada batu itu. Kadang menyakitkan. Akan tetapi, hanya dengan cara itulah cinta sungguh mengalir dari kedalaman jiwa orang. Dalam bahasa Kitab Suci: mendengarkan Sabda dan melaksanakannya. Ini bukan pertama-tama soal mematuhi perintah atau menaati aturan. Bikin orang menaati aturan itu relatif gampang. Asal ada kontrol dan punishment yang jelas dan berefek jera, orang akan cenderung menaatinya (kecuali yang super kreatif akan mencari cara untuk meloloskan diri dari jeratan hukum).

Cinta tidak bekerja dengan modus seperti itu. Cara kerja cinta ialah: orang sadar bahwa ia dicintai Allah, dan ia membagikannya kepada sesama. Sebagaimana cinta Allah itu bisa disalahpahami manusia, begitu pula cinta yang dibagikan bisa disalahpahami karena kepentingan sesaat dan untuk itu orang bisa memanfaatkan batu untuk melempari objek tertentu.

Jadi, mari kembali ke batu. Kalau orang berkepala batu ditimpuk batu, kira-kira apakah ia sedang membagikan cinta Allah, atau sedang membuat Allah tandingan alias berhala? Memang sayang sih kalau kita baru bisa menjawab pertanyaan itu setelah ditimpuk batu!


KAMIS ADVEN I
4 Desember 2014

Yes 26,1-6
Mat 7,21.24-27

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s