T3M vs M3T

Kalau Anda datang ke tabib yang memiliki kemampuan supranatural, bisa jadi Anda diminta untuk berdoa seturut keyakinan Anda (yang mungkin saja berbeda dari keyakinan tabib itu). Ia meminta Anda untuk percaya kepada Allah yang mampu menyembuhkan orang sakit. Seberapa besar kepercayaan Anda terhadap Allah, Sang Penyembuh Sejati, sebesar itulah kemungkinan Anda bisa memperoleh kesembuhan.

Pernyataan itu gak bisa dibalik: jika orang tak kunjung sembuh berarti orang itu tak beriman. Kenapa? Justru karena kesembuhan itu adalah juga anugerah Allah. Yang namanya anugerah itu datangnya ya suka-suka si pemberi anugerah. Tetapi ‘suka-sukanya’ si pemberi anugerah dalam bacaan-bacaan hari ini bisa ditelisik rambu-rambunya.

Pertama, karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan… hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.” (Yes 29,13-14) Ini soal hati yang terpaut pada Allah, bukan tata ibadat atau metode doa.

Semakin orang sibuk dengan tata doanya sendiri tanpa menilik hati dan implikasi suara hatinya, semakin orang datang kepada Allah dengan kemunafikan. Tidak hanya itu, jika orang ini punya jabatan atau kuasa, ia akan menjadi tiran, yang begitu saja menyatakan seseorang berdosa di dalam suatu perkara, dan yang memasang jerat terhadap orang yang menegur mereka di pintu gerbang, dan yang mendesak orang benar dengan alasan yang tidak-tidak (Yes 29,21).

Kedua, dua orang buta itu ingin disembuhkan dan keinginan itu memang mereka wujudkan secara serius. Apa wujudnya? Mereka mengikuti ke mana si tabib itu pergi dan berteriak memanggilnya dengan julukan “anak Daud” (karena mereka percaya bahwa sang penyelamat itu datang dari keturunan Daud; maka ya sebutlah ‘anak Daud’ dan bukan paud).

Tuhan mampu menyembuhkan orang dari kebutaan (egoisme, narcisisme, depresi, kemarahan terpendam). Akan tetapi, Ia menghargai jalan yang ditempuh orang. Orang disembuhkan hanya jika keinginan sembuhnya menjadi suatu keterlibatan, pencarian, pertobatan hati.

Sayangnya, seringkali orang datang kepada Tuhan, menanti solusi dari-Nya tanpa mau melihat bahwa solusi itu sudah ada dalam hati orang sendiri. Orang maunya terima jadi, konsumtif. Kenapa? Karena lebih mudah daripada solusi yang menuntut keterlibatan untuk menindaklanjuti suara hati itu! Dalam beberapa hal (yang mungkin malah penting) orang susah menjalankan sesuatu yang diketahuinya baik… yang dilakukannya malah yang tidak baik (Rom 7,15).

Lebih runyam yang mana: tahu tapi tak mau atau mau tapi tak tahu?


JUMAT ADVEN I
5 Desember 2014

Yes 29,17-24
Mat 9,27-31

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s