Korban Mei 98 Naik Surga

Sampai abad V dalam tradisi Gereja hanya ada satu perayaan: kebangkitan Yesus, yang satu paket dengan kenaikan ke Surga dan pentakosta. Dengan tiga perayaan kemudian bisa dimengerti tiga pokok pertanyaan:

1. Apakah Yesus hidup? Ya, Yesus tak mati selamanya, tetapi tetap hidup (dengan kebangkitannya).
2. Lha di mana dong sekarang ini? Ia naik ke surga (yang berarti secara definitif bersatu dengan Allah dalam ‘dunia ketiga’ – bdk. posting Kristus Butuh Toilet Jugakah? atau Don’t Worry Be Happy Easter) dan meninggalkan tugas kepada kita untuk melanjutkan karyanya.
3. Apa Ia meninggalkan kita sendirian? Tidak, Ia hadir di antara kita dengan Roh-Nya (Pentakosta).

Mengapa Markus menggambarkan kenaikan Tuhan secara fisik? Apakah kenaikan ke surga ini benar-benar peristiwa fisik historis? Entahlah, tetapi untuk mengertinya kita bisa membandingkannya dengan peristiwa kebangkitan. Repotnya, peristiwa kebangkitan sendiri juga tak terpahami karena tak ada bukti fisik, bukan? Maka dari itu, perlu cara lain.

Konon di dunia Mediterania sana, ketika orang besar meninggal (Hercules, Empedokles, Romulus, Elia, Aleksander Agung, misalnya) tidak dikisahkan bahwa dia mati, tetapi naik ke surga. Itulah cara untuk mengatakan bahwa orang itu begitu besarnya sehingga takkan pernah mati. Kisah kenaikan pun bukan deskripsi peristiwa fisik, melainkan peristiwa ‘iman’ tertentu yang lebih berbau teologis daripada historis. Trus, kenapa Markus menuliskan deskripsi peristiwa fisik ya?

Tragedi Mei 98 merupakan peristiwa historis yang bisa ditelusuri dengan aneka alat bukti (sejauh tidak dilenyapkan oleh pihak-pihak yang tak menginginkan pengungkapan tragedi itu). Apakah ada korban jiwa dari tragedi itu? Ada dan itu terverifikasi data. Kemarin diresmikan prasasti peringatan tragedi Mei 98.  Prasasti itu menjadi bentuk pengakuan akan matinya para korban. Akan tetapi, lebih dari itu, prasasti juga merepresentasikan roh yang tak selesai dengan kematian para korban tragedi. Kenapa? Karena prasasti itu muncul sebagai buah solidaritas keluarga korban selama 17 tahun untuk menyerukan keadilan, kemanusiaan sebagaimana juga dilakukan dalam bentuk lain (peringatan tragedi Trisakti, misalnya).

Gerakan solidaritas keluarga korban, gerakan mahasiswa mengenangkan tragedi itu menunjukkan bahwa roh itu memang senantiasa hidup: melalui imajinasi, pikiran, cita-cita, kreativitas, dan sebagainya. Mahasiswa yang berdemo itu mungkin tak tahu lagi bagaimana persisnya tragedi itu. Masyarakat umumnya saat ini juga barangkali tak bisa mengakses situs TKP, dan bukti-bukti kekerasan itu bisa juga sudah (di)lenyap(kan), tetapi roh pasca kematian korban itu melanggengkan kerinduan terdalam manusia. Pelanggengan itu tak bisa diukur semata dengan bukti-bukti historis.

Pesan Yesus yang bangkit dan hendak pergi itu berbunyi: Aku gak akan ada lagi seperti sekarang. Aku gak lagi bicara tanpa kalian karena kalian menjadi bibir, tangan, kaki, mata, dan hatiku. Aku akan ada di dunia melalui kalian. Bagaimana? Melalui pewartaan kabar gembira itu! Kabar gembira bukan soal mana yang boleh dan mana yang dosa, bukan soal penghakiman para pelacur online, rentenir, pengedar narkoba, dan sebagainya. Yesus memberi tugas kepada para rasulnya untuk pergi ke seluruh penjuru dunia dan mewartakan Injil (a.k.a. kabar gembira). Sekali lagi, tidak untuk membaptis semua orang dalam arti memaksa semua orang memeluk agama Kristen atau Katolik!

Tak seorang pun bisa memiliki Allah. Allah bukan juga milik Gereja Katolik. Yesus seolah ingin mengatakan,”Allah senantiasa hadir juga dalam dirimu. Ekspresikanlah itu. Aku takkan menambah apa-apa selain mengutus Roh supaya kamu bisa mengungkapkan, mewujudkan siapa dirimu.” Betapa arogannya Gereja Katolik jika mematenkan Allah dan berlagak hendak ‘memberikan’ Allah kepada semua orang lain (dengan baptisan). Gereja tak bisa memberikan Allah karena Allah sudah punya kavlingnya sendiri dalam diri setiap orang.

Etty Hillesum, korban kekejaman NAZI, menulis bahwa akan datang masa ketika di hadapan tragedi hidup kita tidak lagi mempertanyakan tanggung jawab Allah (di mana Kau, Allah?), tetapi justru mempertanyakan tanggung jawab kita sendiri (di manakah aku berdiri? Aku mau apa?)! Eksistensi Allah bisa diinsinuasikan dengan bukti-bukti saintifik, tetapi lebih kentara lagi justru dalam tanggung jawab manusia atas kehidupan bersama: itulah roh kenaikan ke Surga, roh yang membawa para korban tragedi 98 juga.


Hari Raya Kenaikan Tuhan B/1
14 Mei 2015

Kis 1,1-11
Ef 4,1-13
Mrk 16,15-20