Kristus Butuh Toilet Jugakah?

Kenapa ya Yesus yang bangkit itu menampakkan diri kepada orang-orang dekatnya sendiri? Kenapa bukan justru kepada orang-orang yang memutuskan atau membiarkan dia dihukum mati: kaum Farisi, Kayafas, Pilatus, misalnya? Bukankah dengan begitu Yesus memberi bukti kuat tentang kebangkitannya? Bukankah kalau begitu nantinya lebih banyak orang bisa memercayai apa yang diwartakan para murid Yesus (wong yang paling getol melawan malah jadi berbalik membela kok)? Tampaknya begitu, tapi kalau dipikir-pikir kok ya tidak. Kenapa? Lha wong murid dan fans saja gak ngeh bahwa yang menampakkan diri itu Yesus, apalagi mereka yang melawannya! Paling banter mereka hanya akan ketakutan melihat arwah penasaran seperti yang dipertontonkan di tivi-tivi begitu.

Penampakan Kristus rupanya tidak dilandasi oleh niatan ‘dendam’ (titenono kowe!) untuk memuaskan diri dengan menunjukkan kesalahan orang lain. Penampakan Yesus tidak dimaksudkan untuk membuktikan sesuatu kepada mereka yang tak percaya. Sebaliknya, Kristus menampakkan diri untuk meneguhkan mereka yang percaya bahwa Yesus tetaplah bersama mereka juga setelah kematiannya. Ia tetap bersama para murid dengan cara baru. Cara barunya gimana?

Mari lihat kembali tiga dunia yang diintroduksi oleh peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus: (1) dunia sini, (2) dunia orang mati, dan (3) dunia persekutuan dengan Allah. Kita ingat fresco di sebuah gereja di Istanbul ini:

Kematian itu adalah perpindahan dari dunia sini (1) ke dunia orang mati (2). Lha, kebangkitan Kristus bukan perpindahan dari dunia orang mati (2) ke dunia sini (1)! Kebangkitan Kristus bukanlah kebangkitan seperti dialami Lazarus atau pemuda Nain atau anak janda di Sarfat pada kisah Perjanjian Lama dulu. Itulah mengapa bahkan para murid tidak bisa segera menangkap penampakan Yesus kepada mereka. Di kepala mereka hanya ada pola kebangkitan dari dunia kedua ke dunia pertama: dari dunia orang mati kembali ke dunia sini.

Kebangkitan Kristus adalah perpindahan dari dunia pertama ke dunia ketiga melalui dunia kedua. Ia mengalahkan dunia kedua, mengatasi dunia kematian, dan masuk dalam dunia persekutuan dengan Allah. Lha, dalam dunia ketiga itu, badan yang ditampakkan Yesus, tak terpahami dengan konsep badan material: wujud fisiknya bisa ditangkap indera, bahkan Kristus yang bangkit itu bisa makan juga… tetapi saya kira Dia tidak (butuh waktu untuk) buang air besar, misalnya. Bagaimana itu bisa dijelaskan, saya gak tahu. Prinsipnya bukan jadi hantu, tapi juga tak lagi terikat pada hukum biologis.

Barangkali perwujudannya tampak pada bagian akhir teks Injil hari ini: para murid menjadi saksi kebangkitan dalam persekutuan mereka. Menjadi saksi kebangkitan sama sekali bukan soal memberi penjelasan, kotbah, refleksi di blog, pengajaran teologi atau katekese: ini soal merealisasikan pertobatan dan pengampunan dosa kepada segala bangsa. Yang begitu itu pasti tak mungkin dijalankan secara individual. Orang beriman memerlukan persekutuan sebagai ‘tubuh mistik’ Kristus tadi: tetap hidup dalam dunia inderawi dengan roh yang mengatasi hukum biologis, karena Kristus menyertainya.

Penampakan Kristus bukan untuk pembuktian intelektual, melainkan peneguhan iman secara afektif bahwa Ia menyertai umat beriman untuk memberi kesaksian dunia persekutuan dengan Allah.


MINGGU PASKA III B/1
19 April 2015

Kis 3,13-15.17-19
1Yoh 2,1-5a
Luk 24,35-48

Posting Tahun Lalu: Happiness, Inventing The Meaning

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s