Ikan Goreng dan Iman yang Naif

Ini catatan sepele yang saya besar-besarkan setelah tetangga sebelah, ahli Kitab Suci itu, mengingatkan saya pada kemungkinan kesalahan terjemahan Kitab Suci. Dalam teks Injil Lukas yang dibacakan hari ini dikisahkan Yesus yang bangkit menampakkan diri di tengah para rasul, njuk minta makan. Diberilah dia nasi goreng… eh, ikan goreng!

Dulu saya tidak mempersoalkan hal itu karena memang saya anggap sepele. Tetapi lama-lama saya berpikir juga, nggorengnya pakai apa ya dan lebih lama-lama lagi saya mulai mencoba mengerti kultur di sana: sepertinya lebih masuk akal bahwa yang dimaksud kiranya ialah ikan bakar atau ikan panggang. Tentu saja kalau mau, Allah bisa mak cling menyediakan penggorengan stainless anti lengket (yang waktu itu belum ditemukan manusia), tetapi justru itulah yang mau saya persoalkan: apa bukannya Allah berkarya juga melalui perkembangan kultur manusia?

[Addendum 2018: Itu juga berarti bahwa Kitab Suci senantiasa mengambil wujud kultur manusia, yang artinya Kitab Suci adalah bikinan manusia, betapapun inspirasinya dari Roh Kudus, dan sebagai bikinan manusia pasti ada keterbatasan redaksi, terjemahan, pilihan kata, dan sebagainya. Singkatnya, jangan percaya bahwa Kitab Suci adalah Sabda Allah. Sabda Allah bukanlah huruf-huruf yang tercetak dalam kertas, melainkan yang tertanam dalam hati manusia. Itu makanya Sabda Allah tak bisa dimonopoli oleh satu orang; untuk menangkap yang tertanam dalam hati itu, orang perlu dialog dengan yang lain, juga dengan bantuan huruf yang tercetak dalam kertas tadi. Horotoyoh, paham ora, Son?]

Saya ingat bagaimana dua mahasiswa berdebat kusir mengenai teks penciptaan seturut Kitab Kejadian. Yang satu meyakini bahwa penciptaan itu gak mungkin berlangsung tujuh hari, sementara yang lain ngotot bahwa apa yang tidak mungkin bagi manusia itu adalah mungkin bagi Allah. Haiyaaaa…. Saya lebih condong berpihak pada yang menyangkal keterangan tujuh hari penciptaan tanpa mengabaikan bahwa Allah memang bisa melakukan hil-hil yang mustahal bagi manusia. Kenapa? Karena saya percaya bahwa Allah itu menghargai kemampuan manusia untuk berpikir, menghargai juga kebebasan manusia. Lha kalau argumentasi ditutup dengan “apa yang tak mungkin bagi manusia adalah mungkin bagi Allah”, nggih sampun gak usah berdebat, wis sak karepmu mau bicara apa dan katakanlah bahwa yang tak mungkin bagi manusia adalah mungkin bagi Allah. Upacara selesai.

Tak sedikit umat mengklaim dirinya beriman, tetapi malas berpikir. Bukan karena tidak bisa berpikir, melainkan karena malas berpikir! Terserah kata guru agama deh, terserah romo, terserah pendeta, terserah kyai, bhikku, dan lain sebagainya, pokoknya saya nurut aja. Dari kemalasan berpikir itulah muncul kenaifan, kemunafikan, kesucian narcisistik… Semoga Paska pun ikut membangkitkan orang untuk tidak malas berpikir, merefleksikan imannya, menggugat terjemahan Kitab Suci, mengkritisi tafsir Kitab Sucinya, supaya iman sungguh konkret, terhubung dengan Allah tetapi juga berpijak pada tanah kehidupan.

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s