Kadang Niat Baik Cukup

Mukjizat penggandaan roti dalam Injil Yohanes yang dibacakan kemarin barangkali merupakan mukjizat terburuk yang dilakukan Yesus. Mukjizat kok terburuk sih? Bagi Yesus, itu adalah kesempatan untuk menguak wajah Allah dan manusia yang sebenarnya. Pesannya jelas: di hadapan penderitaan dunia ini, di hadapan aneka kesakitan manusia, orang diharapkan berbagi apa yang mereka miliki. Akan tetapi, yang terkuak di hadapan orang banyak cuma keadaan manusia yang sebenarnya: ingin sensasi dan melanggengkan perkara duniawi. Mereka ingin bisa menikmati aneka mukjizat lainnya dan bisa melawan kekuatan penjajah, misalnya. Mencium gelagat bahwa mereka hendak membawanya dengan paksa untuk menjadikannya raja, Yesus menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Orang banyak kiranya gak paham Yesus ini bagaimana kok malah gak mau jadi presiden alias pemimpin politik mereka. Tidak hanya orang banyak, tetapi juga para murid heran setengah mati. Ini kan jelas sekali merupakan waktu yang tepat untuk mobilisasi massa. Yesus punya legitimasi politik dari bawah, tanpa money politics, tanpa intrik. Lha kok malah dia pergi menyingkir sendirian ke gunung? [Tampaknya mereka belum sadar politik juga bahwa kalau Yesus mengikuti skenario itu, jelaslah ada risiko besar gerakan pemberontakan dan pemerintahan Romawi malah punya landasan hukum untuk menghancurkan mereka! Batal dong rencana keselamatan lewat salib]

Mereka bingung dan tak tahu mesti ngapain. Mereka tidak ikutan juga ke gunung dan kembali berperahu hendak menyeberangi Laut Tiberias (Danau Galilea). Pada malam hari saat mereka dalam perahu itu terjadi angin besar dan air laut sangat bergejolak dan pada saat itulah mereka melihat Yesus berjalan di atas air.

Kisah ini tentu mengambil waktu sebelum wafat dan kebangkitan, tetapi dipakai Gereja untuk menyinggung misteri Paska. Dalam Kitab Suci dan dunia orang Yahudi (waktu itu), kematian kerap kali dikaitkan dengan laut. Anda berani ke laut, bersiaplah mati seperti dulu tentara Mesir mati ditelan air laut. Ini adalah cara simbolik penulis Yohanes bicara mengenai penderitaan, sakit, dan kematian. Maka, kalau Yesus berjalan di atas air, itu adalah simbol dirinya sebagai penakluk kematian (dan itulah Paska). Para murid yang melihatnya malah ketakutan, tetapi Yesus dalam simbol kematian itu malah menyatakan dirinya: Aku ini, gak usah takut!

Kemudian mereka hendak menaikkan Yesus ke dalam perahu, setelah menempuh perjalanan sejauh dua tiga mil. Masih ada tiga empat mil lagi untuk sampai ke Kapernaum. Menurut terjemahan teksnya sendiri: mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui (Yoh 6:21). Mereka baru berniat menaikkan Yesus ke perahu dan seketika itu juga perahu mereka mak wuuuussssh tiba di daratan yang mereka tuju dan Yesus bersama mereka. Believe it or not deh… 

Pokoknya, ketika umat beriman menerima Yesus (misteri manusia-ilahi dalam sengsara, wafat dan kebangkitan) sebagai bagian hidupnya, ia bisa mencapai sisi lain: tempat aman dan tujuan eksistensinya.


SABTU PASKA II
18 April 2015

Kis 6,1-7
Yoh 6,16-21

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s