Perbuatan Tanpa Iman is dead

Orang Kristiani kiranya sudah akrab dengan ungkapan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:17). Akan tetapi, keakraban itu perlu senantiasa disadari supaya tidak jatuh dalam salah satu kutub oposisi biner, entah perbuatan maupun iman. Tak ada iman tanpa wujud perbuatan dan perbuatan tanpa iman bisa hanya jadi kompulsi ala robot.

Kita masih ingat kutipan kisah mukjizat penggandaan roti dekat kota Tiberias yang lalu (Yoh 6,1-15). Murid-murid Yesus terpisah dari Yesus yang menyendiri ke gunung, mereka berlayar ke Kapernaum dan jumpa Yesus lagi di tengah danau (Yoh 6,16-21). Beberapa perahu dengan penumpang sebagian dari mereka yang melihat mukjizat penggandaan roti (dan ikan) juga tiba di Kapernaum. Mereka termasuk yang mencari Yesus dan hanya kepada mereka inilah Yesus menyampaikan pesan pada ayat 26-27: kamu ini mencari aku kok karena sudah kenyang makan, mbok ya kerjalah untuk makanan yang lebih dari sekadar bikin kenyang itu, yang dapat rida Allah! [Di sana juga berkumpul orang Kapernaum sendiri yang tidak melihat peristiwa penggandaan roti. Kepada mereka Yesus omong sesuatu yang lain, tapi itu urusan besok saja karena hari ini bacaannya hanya sampai ayat 29, heeee…]

Pesan Yesus itu masih dalam konteks bahwa orang banyak tadi hendak menjadikan Yesus sebagai pemimpin atau sosok hebat dalam hidup mereka. Ia menganjurkan mereka untuk bekerja mencari makanan yang memenuhi hati, bukan perut. Tentu masuk akallah bahwa mereka bertanya: trus mesti bikin apa supaya bisa bekerja melakukan pekerjaan Allah? Jawabannya bisa bikin dahi mengernyit: kamu gak usah melakukan apa-apa secara khusus, yang penting hendaklah kamu percaya pada dia yang telah diutus Allah (ayat 29). Jadi nelayan ya menjala ikanlah baik-baik, jadi pedagang yang jualanlah baik-baik, jadi maling ya malinglah baik-baik (izin dulu, kalau tidak dikasih izin ya jangan maling, haaaaa).

Rupanya, yang penting bukan ‘melakukan’-nya, melainkan ‘percaya’-nya. Yang memuaskan hati kita bukanlah pekerjaan, bahkan perbuatan amal, devosi, ziarah atau ibadat sekalipun (karena yang dipuaskan di situ bisa jadi hanyalah ‘superego’ dalam kategori psikologi). Yang memuaskan hati ialah iman yang dilibatkan dalam aneka perbuatan, dalam ‘permainan’ hidup ini. Maka, orang beriman tidak dikenali dari berapa lamanya ia meluangkan waktu doa, berapa lama dia di tempat ibadat, seberapa sering ia berziarah, melainkan dari seberapa jauh ia percaya akan Kerajaan Allah dan berani bangkit dari keterpurukan untuk mewujudkan Kerajaan itu (yang pasti bukan agama!). Dari kepercayaan itu muncullah tanggapan yang berupa tindakan atau perbuatan. Dengan begitu, orang tak perlu buru-buru jatuh pada aktivisme yang seringkali malah menunjukkan semangat tong kosong berbunyi nyaring ring ring ring ring.


SENIN PASKA III
20 April 2015

Kis 6,8-15
Yoh 6,22-29

Posting Tahun Lalu: Spirit’s Work, Wider and Deeper

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s