Yesus Jadi Berhala…

Tugas pengikut Kritus gak gampang. Kepada orang Yahudi mereka mesti jadi saksi bahwa Allah sungguh hadir dalam sejarah dengan hidup, wafat dan kebangkitan Kristus. Di lain pihak, kepada orang non-Yahudi para rasul mesti mengoreksi kesesatan paham  mereka. Apa itu? Pikir mereka, Allah yang hadir dalam sejarah manusia itu bisa diperlakukan sebagai idol.

Orang-orang di Listra terpukau atas mukjizat Paulus dan mereka mempersembahkan aneka korban seperti dalam pemujaan dewa-dewi mereka. Lha, apalagi kalau mereka ketemu Yesus, sesaji macam apa yang bakal mereka berikan? Menurut para rasul, ini adalah penyembahan berhala yang sia-sia!

Padahal, orang cenderung mengidolakan apa saja yang mereka sukai, apa yang mereka pikir cocok, yang memenuhi keinginan mereka. Apa salahnya sih punya idola? Apa salahnya mengidolakan Yesus?

Idol atau ilah atau berhala itu memfiksasi apa yang mau disembah dalam wujud tertentu. Orang yang menyembahnya tak punya relasi dengan yang disembahnya. Dalam kadar tertentu itu mirip dengan fetisisme (orang memuaskan diri sendiri bukan karena relasi dengan idolanya, tetapi karena benda yang tak berhubungan secara pribadi dengan idola itu). Paulus dan Barnabas menyadari bahwa mereka dan Yesus Kristus bisa diterima sebagai berhala juga. Ini mirip-mirip juga dengan berdoa di depan patung dianggap sebagai penyembahan patung. Loh, ya beda dong, Yesus kan bukan patung. Memang, tetapi hakikatnya sama: de facto manusia Yesus itu sudah tidak ada, yang ada tinggal ide mengenai dia, dan ide itu bisa jadi objek idola juga yang disebut sebagai ideologi! Berarti? Yesus pun bisa jadi berhala!!!

Wah…Romo ini bagaimana, kok malah mengajarkan yang sesat sihMosok Yesus jadi berhala? Memang Yesus jadi berhala sejauh Yesus yang ditangkap adalah Yesus historis belaka. Apa sih Yesus historis itu? Yesus sebagaimana tokoh besar lainnya di dunia ini: mereka yang lahir, hidup sukses dan punya banyak pengikut, tapi ujung-ujungnya mati juga! Itulah Yesus historis, yang bisa disamakan dengan nabi-nabi besar lainnya dalam sejarah.

Akan tetapi, bukan Yesus itu yang diwartakan para rasul! Yang mereka wartakan adalah Yesus yang bangkit! Itu sebabnya terjadi salah paham sehingga orang tidak bisa menerima pewartaan para rasul. Yang namanya orang ya gak bisalah jadi Allah! Orang ya orang, Allah ya Allah. Gak bisa setengah orang dan setengah Allah (dan orang gak perlu belajar teologi untuk memahami hal itu)!

pontiffJadi, jelas bukan titik perbedaan kristianitas? Persoalannya orang mau percaya pada kebangkitan Yesus atau tidak. Kalau tidak percaya, logisnya, Yesus hanyalah Yesus historis dan menyembah Yesus berarti menyembah berhala. Sama halnya jika orang menyembah Marx, Mahatma Gandhi, atau Pangeran Diponegoro! Ini idolatria. Kalau percaya pada kebangkitan, menyembah Yesus bukanlah menyembah berhala karena yang disembah adalah Yesus Kristus, Yesus yang bangkit dan mengutus Roh Kudus-Nya. Roh Kudus ini yang memampukan orang melihat Yesus Kristus dalam kesatuan dengan Allah Bapa. Roh Kudus ini pula yang membuat orang memahami Allah yang hidup, bukan Yesus yang mati dan jadi berhala!


SENIN PASKA V

Kis 14,5-18
Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka lalu …berseru, “Hai kamu sekalian…Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup…”
Yoh 14,21-26
Tuhan, apakah sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?”

9 replies

  1. Sungguh, menjadi murid Kristus atau menjadi pengikut Kristus tidaklah mudah. Hal itu juga berarti menerima Allah di dalam hati kita dan di dalam kehidupan kita sehari-hari tidaklah mudah karena Allah yang Maha Besar tentu tidak bisa dipahami oleh manusia. Manusia kan punya banyak keterbatasan. Tapi kalau membaca artikel kemarin, malah justru keterbatasan dan misteri tentang Allah itu (yang tidak bisa dipahami manusia) membuat manusia bisa menaruh iman dan harapannya kepada Allah. Apakah misteri sama dengan ketidaktahuan atau ketidakpastian? (Toh ilmu pasti juga ternyata membutuhkan pengandaian-pengandaian). Jadi bagaimana ini rama Andreas?

    Like

    • Damar, saya kira poin penting misteri bukan pada dimensi pengetahuan manusia, melainkan pada penghayatan relasi manusia dengan Allah. Jadi, entah pengetahuannya terbatas, sedikit atau banyak, orang mesti melihat apakah ia memberi tempat kepada Allah yang hendak meraja itu. Konkretnya, seandainya kita sudah menaklukkan sistem tata surya, bisa membuat prediksi yang memang sangat persis, apakah kita tetap meletakkan hidup kita dalam penyelenggaraan Allah sendiri, atau mengandalkan autocorrect dalam pengetahuan kita sendiri? Hanya jika orang punya relasi dengan Allah itu, ia menghidupi misteri yang tak bisa kita pahami total, tetapi bisa kita akrabi… Wah… siang2 bahas misteri, jadi lapar…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s