Compare? Despair!

Sebagai anak, pernahkah Anda rasakan kebanggaan ibu pada diri Anda? Sebagai sosok ayah, pernahkah merasa bangga atas capaian anak? Sebagai teman, apakah Anda senang melihat kesuksesan orang lain? Atau Anda malah susah melihat orang lain gembira dan gembira melihat orang lain susah?

Murid Yohanes bersilat lidah (kayak apa sih tuh lidah main silat?) dengan orang Yahudi yang tentu bertanya-tanya soal baptisan Yohanes karena jebulnya Yesus, yang dibaptis Yohanes itu, juga membaptis orang-orang Yahudi lainnya. Tampaknya murid-murid Yohaneslah yang agresif. Mereka berpegang teguh bahwa baptisan Yohanes bersifat superior daripada baptisan lainnya. Kemungkinan besar, yang bersilat lidah itu adalah murid-murid baru, berdarah muda: nafsu besar, tenaga kurang (loh, bukannya ini berlaku untuk orang tua ya?)!

Memang, orang fanatik atau fundamentalis biasanya berdarah muda begitu: gejolaknya luar biasa tapi tak diimbangi dengan pengetahuan mendalam dan diskresi yang baik (jadilah pembantaian banyak nyawa di sana sini atas nama agama)! Murid Yohanes begitu mengagung-agungkan Yohanes dan tidak juga mengerti bahwa Yohanes sendiri sudah menegaskan bahwa ia memang diutus untuk mendahului Mesias, tetapi ia bukanlah Mesias.

Tetapi, apa mau dikata, murid-muridnya malah memperlakukan Yohanes seolah-olah dialah Mesias itu. Mereka melakukan perbandingan dan membuat judgment implisit bahwa Yohanes lebih layak dihormati karena dialah yang membaptis Yesus. Yohanes menandaskan yang kebalikannya: Dia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil.

Pada sosok Yohanes tak ada keirihatian, tetapi justru kegembiraan yang tulus bahwa ia mendapat tempat untuk menyiapkan kedatangan Mesias. Ada sebagian orang yang hobi membandingkan diri dengan orang lain dan menuntut kesamaan dengan orang lain: tidak senang bahwa orang lain lebih berhasil daripada dirinya. Yohanes tahu perannya dan ia tidak menginginkan murid-muridnya justru membuat dirinya sebagai berhala: diidolakan sedemikian rupa sehingga orang tak bisa lagi membedakan mana tujuan dan mana sarana.

Hal yang sama bisa terjadi pada pengikut Yesus sendiri: menjadikan Yesus sebagai berhala (linknya ada di sini). Maka, kalau pengikut Yesus itu mencoba compare, barangkali ia malah jadi despair: ternyata banyak orang baik yang tidak percaya kepada Yesus Kristus; Yesus itu orang suci,  aku bukan; tak sedikit orang jahat yang bernasib baik, padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga tapi nasibku jelek terus; dan lain sebagainya. Compare, despair!

Hanya mereka yang punya relasi pribadi dengan Allah yang mahabesar yang takkan despair bahkan meskipun ia secara instingtif compare, karena ia sadar bahwa ia adalah alat untuk kebesaran Allah itu.


HARI BIASA SESUDAH PENAMPAKAN TUHAN B
Sabtu, 10 Januari 2015

1Yoh 5,14-21
Yoh 3,22-30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s