Jangan Main-main dengan Mantilla

Arsitek, perancang busana, atau pemimpin yang baik, semestinya memperhatikan sudut estetika sekaligus fungsionalitas dari rencana tindakan atau produknya. Luput memperhatikan keduanya bisa bikin perkara. Contohnya cari sendiri nggih. Teks Injil Matius hari ini, yang punya padanan dengan Injil Lukas, menyinggung soal pakaian pesta, tetapi jelas bukan soal velvet dressnya sendiri yang jadi pesan utama. Latar belakang penulisan teks Matius dan Lukas sama: keselamatan ditawarkan kepada semua orang, sebaik apa pun orangnya, sebejat apa pun orangnya.

Dalam komunitas Kristen awal saat itu memang ada masalah hidup bersama. Soalnya sederhana. Mereka itu sama-sama Kristen, tetapi ada yang dulunya menyembah berhala (lha memangnya orang Kristen gak nyembah berhala po? Haha… ya dulu tidak) dan ada yang dulunya ‘Yahudi’. Nah, yang ‘Yahudi’ kan masih bawa-bawa kebiasaan seperti gak mau makan bareng alias satu meja makan dengan penyembah berhala. Tak mengherankan, Petrus punya konflik di Yerusalem, sewaktu masuk rumah Kornelius dan makan dengannya. Ia menjelaskan vision yang diterimanya: apa yang dinyatakan halal oleh Allah, janganlah diharamkan oleh manusia (Kis 11,1-10).

Dalam komunitas Injil Lukas, meskipun ada perbedaan ras, kelas dan jenis kelamin, mereka punya cita-cita besar mengenai hidup komunitas yang saling berbagi (Kis 2,42; 4,32; 5,12). Maka, dalam Injil Lukas (Luk 14,15-24), perumpamaan ini menekankan undangan bagi semua. Tuan rumah pesta marah lantaran undangan tak datang; lalu mengundang orang-orang yang dikategorikan najis: orang miskin, lumpuh, buta, dan sebagainya. Toh masih ada tempat juga. Jadi, ia mengundang siapa saja! Sori, jangan ditafsirkan ini secara naif sebagai undangan untuk memeluk agama Kristen, Katolik, jadi pastor atau biarawan-biarawati ya! Itu tafsir naif, yang eranya sudah lewat.

Dalam Injil Matius, bagian pertama bertujuan sama: orang baik, orang jahat, mari pesta bersama Tuhan! Akan tetapi, Matius masih menambahkan sesuatu. Entah elu orang jahat, entah orang baik, kalo’ ke pesta ya pakailah pakaian pesta! Yeee… lha kalo’ orangnya miskin, gimana dia punya pakaian pesta?!
Lha itu dia. Kenapa trus dihubungkan dengan kaya miskin? Tadi kan dah dibilang yang diundang itu semua orang baik dan jahat, bukan soal kaya miskin. Jadi, orang miskin pun ya mestinya punya pakaian pesta meskipun tak secanggih pakaian pestanya orang kaya. Wah, kok jadi ribet gini? Ya jelas ribet, karena ini wacana letterleijk soal pakaian yang dirancang orang seperti V******o G******i, R**** La**en, atau G*****o A****i (halah… kayak nomor pin). Injil pasti tak bicara soal gaun pesta seperti itu.

Jika ditarik dalam wacana kesalehan pun, teks ini tidak bicara soal pakaian liturgi (meskipun Ekaristi adalah pesta atau perjamuan). Betapapun indahnya, saya tidak akan memakai mantilla saat Ekaristi, misalnya. Kalau Anda mau memakainya, sumonggo, tapi tak usah bawa-bawa Tuhan segala (wong di hadapan Tuhan malah kita semua mesti telanjang ala Ebiet G. Ade!). Maka, jika dikatakan “banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”, tak perlu dimengerti bahwa semua diundang memakai mantilla, tapi hanya orang tertentu yang terpilih. Lebih tepat dikatakan semua diundang untuk membersihkan diri di hadapan Tuhan, tetapi sedikit yang memilih pakai mantilla, sedikit yang memilih jadi imam, sedikit yang memilih jadi misdinar, suster, lektor, organis, dan lain sebagainya.

Maksud saya, sedikitnya itu bukan karena Tuhan selektif dan eksklusif. Sedikitnya itu karena diskresi manusia sendiri (diskresi kepolisian, misalnya, menentukan perlu mengawal rombongan ribuan moge supaya lampu merah bisa diterobos). Alangkah indahnya kalau semua orang bisa berdiskresi dan diskresinya itu klop dengan azas dan dasar hidup manusia. Tapi ya itu tadi, sedikit saja yang mau membuat discernment sesuai dengan azas dan dasar.

Tuhan, telanjangilah aku dan rajutlah simpul-simpul imajinasi, ingatan, pikiran, kehendak, kebebasanku supaya semakin pantas di hadapan-Mu. Amin.


HARI KAMIS BIASA XX B/1
Peringatan Wajib St. Bernardus Abas
20 Agustus 2015

Hak 11,29-39a
Mat 22,1-14

Posting Tahun Lalu: Ayo Pesta…(atau Perang?)

4 replies

  1. Haloo mo.. berkah dalem.

    Saya membuka dan membaca ini karena topiknya pas sekali, yaitu mantilla.

    Mama saya (di kampung sana) juga belakangan ribut mengenai penggunaan mantilla yang disarankan di gereja-nya (karena di paroki saya, setahu saya sih tidak/belum ada anjuran seperti itu) dan mengatakan, kalau para wanita di gereja-nya sudah mulai banyak yang memakai mantilla saat misa.
    Akibatnya, saya disuruh mencari toko online (karena belum ada yang secara offline) yang menjual mantilla tersebut.

    Yang menjadi pertanyaan saya adalah, seberapa pentingnya kita memakai mantilla pada saat misa? Apa pengaruhnya terhadap diri sendiri pada keikut sertaan pada saat misa? Bukankah kebersihan diri dimulai dari hati orang yang ikut misa tersebut (toh sama saja jika pakai mantilla tapi hatinya pun tidak cukup bersih)? Kemudian yang terakhir, bagaimana menurut romo, apakah sebaiknya saya beli dan memakai mantilla tersebut juga?

    Terima kasih sebelumnya mo untuk penjelasannya, berkah dalem.. 😊😊😊

    Like

    • Devi, betul katamu ya, kebersihan mulai dr hati. Mantilla itu soal kultur, spt blangkon misalnya; maka pasti tidak menentukan keabsahan iman dan doa2 kita. Jadi tanyalah mamamu, kalau hatinya mengatakan butuh mantilla spy bisa beriman, dibelikan saja; tapi kalau pakai mantilla krn org lain pake mantilla, kyknya salah jalan deh. Salam,

      Like

  2. Romo, di salah satu stasi bagian dari GMA Klaten (yang konon kabarnya akan jadi paroki), lektornya sekarang pakai mantila. Nah kalau nanti ini merembet ke GMA Klaten, saya sebaiknya bagaimana mo? (saya kan koord tim kerja lektor GMA….hehehee)

    Like

    • Gak apa mas Alex sejauh itu tidak jadi syarat mutlak atau formalisme dan semoga pemakaian mantilla itu menggugah pemakainya untuk fokus pada substansinya. Kalau itu jadi syarat mutlak sebaiknya diusulkan supaya dirembug dulu dalam lingkup yang lebih luas. Salam (semoga mas Alex tidak mau memakai mantilla, nanti diragukan dong panggilan ‘mas’nya). Salam

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s