Allah Tidak Eksklusif

Sejak gempa Yogya 2006 yang berlangsung hampir satu menit itu saya mulai ngeh bahwa tempat kita berpijak ini pada dasarnya disokong oleh suatu massa yang tak pernah diam, yang gerakannya tak bisa, atau sekurang-kurangnya belum bisa diantisipasi secara pasti. Aneka kecemasan orang terhadap ketidakpastian itu diproyeksikan lewat film bertemakan kehancuran dunia dalam kiamat, tetapi juga bahkan melalui gerakan massal yang lebih dahsyat: sebelum hari H kiamat itu sekelompok orang sudah membakar diri supaya selamat dari kengerian kiamat. Begitulah orang membangun suatu paham mengenai keselamatan.

Orang Yahudi pada zaman Yesus memahami datangnya keselamatan sebagai hadirnya Kerajaan yang dijanjikan Allah, tetapi ada beberapa kekeliruan yang mereka hidupi. Kaum Farisi, misalnya, meyakini bahwa Kerajaan itu akan datang jika manusia memiliki ketaatan sempurna terhadap hukum agama yang mereka warisi sejak zaman Musa. Dengan kata lain, kedatangan Kerajaan itu, menurut mereka, bergantung dari usaha mereka. Menurut kaum Eseni, Kerajaan akan tiba kalau hidup bermasyarakat dimurnikan seperti hidup mereka (komunitas pertapa, selibat, berbau-bau komunis). 

Yesus punya cara lain untuk membaca fakta kehidupan dan karena itu ia mengutus muridnya dengan pesan yang jelas: Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat (Mat 10,7). Itu gak berarti bahwa Kerajaan itu datang tepat pada saat itu, tapi memang sudah ada, terlepas dari upaya yang dilakukan orang. Yang dinanti-nanti semua orang itu sudah ada, cuma-cuma alias gratis, tetapi orang tidak mengetahuinya atau merasakannya (bdk. Luk 17,21). Yesus menyadari itu dan ia mengajak semua orang menyadarinya! Ini barangkali bisa diimajinasikan seperti dalam bacaan pertama dinarasikan bagaimana keselamatan keluarga Yakub seperti sudah diplot oleh Allah sedemikian rupa sehingga Yusuf yang dikasari dan dijual ke Mesir oleh kakak-kakaknya justru menjadi ‘aktor penyelamat’ keluarga Yakub di masa kelaparan.

Bagaimana Yesus meminta para muridnya memberitakan Kerajaan yang sudah ada di antara mereka itu? Dengan kata-kata dan wacana di medsos atau di depan corong radio dan kamera televisi? Terutama dengan tindakan konkret yang membebaskan: menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, memberikan secara cuma-cuma apa yang mereka terima secara cuma-cuma. Poinnya: murid Yesus mengupayakan tanda kehadiran Kerajaan, yaitu diterimanya kembali orang yang dikucilkan.

Poin itu menjadi lifestyle murid Yesus juga: mereka sendiri hidup dalam saling menaruh kepercayaan kepada yang lain dan juga berbagi kedamaian dalam masyarakat. Gaya hidup macam ini menyodorkan model baru hidup bersama dan secara gak langsung jadi kritik terhadap kultur akumulasi kekuasaan politik maupun kapitalisme. Jadi, memberitakan Kerajaan yang sudah dekat itu pasti bukan soal sosialisasi kebenaran dan doktrin agama (betapapun doktrin itu memang benar). Ini adalah soal mendorong orang ke arah prinsip persaudaraan baru yang dibawa Yesus: Allah menjadi Bapa (dan Ibu) bagi semua orang.

Prinsip persaudaraan macam itu mengandaikan orang bertobat, memperluas cakrawala pandang hidupnya, dalam semangat pengampunan. Tanpa itu, yang terjadi adalah eksklusi, cap kafir, cap haram terhadap orang atau agama yang satu dan yang lain. Kiranya Allah ‘lebih bergembira’ jika semua orang tidak kafir dan tidak haram seturut doktrin agama nan eksklusif.

Ya Allah, semoga aku dapat memupuk benih-benih persaudaraan yang Kau inginkan tumbuh dalam diri semua orang tanpa ada yang dikecualikan. Amin.


HARI KAMIS BIASA XIV B/1
9 Juli 2015

Kej 44,18-21,23b-29;45,1-5
Mat 10,7-15

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s