Adakah yang Kusingkirkan?

Ada banyak hal kecil atau sepele yang jika tak diperhatikan sungguh-sungguh bisa membahayakan. Silakan mencari contohnya sendiri-sendiri ya. Saya cuma mau mengatakan ada orang-orang tua yang tidak berpikir bahwa apa yang terjadi pada anak-anak balita bisa sangat menentukan perkembangan mereka kemudian. Siapa mengira, kecuali mereka yang mengerti sedikit psikologi, bahwa ‘konflik batin’ masa balita (karena kerap tak diberi minum, mainan, atau dibentak, dicubit, dilarang) yang tak terpecahkan bisa menghasilkan pribadi-pribadi sulit (bahkan mengancam hidup bersama) di masa-masa kemudian?

Teks hari ini menyodorkan pertanyaan mengenai siapa yang terbesar dalam komunitas Kerajaan Surga. Yesus tidak menjawab langsung, tetapi memberi ancer-ancer tolok ukurnya: bukan mayoritas, bukan kekuasaan. Yesus justru mengundang muridnya untuk memperhatikan hal-hal yang luput diperhatikan oleh mayoritas. Alasannya sebetulnya masuk akal, tetapi rupanya tidak pada akal semua orang: kekuatan pada titik terlemah itulah justru yang menguak kekuatan Allah. Bayangkan saja bagaimana orang yang punya kuasa ini itu: di sini di situ kekuatannyalah yang ditunjukkan. Kunci Kerajaan Allah justru ada pada tindakan sebagai anak kecil, orang lemah, tersingkir: tetapi ini jelas bukan tindak kekanak-kanakan, tindak menyingkirkan diri sendiri, atau melemahkan diri sendiri dengan ketidakpercayaan diri. Ini juga bukan soal berlagak seperti orang miskin supaya dapat potongan uang gedung sekolah, misalnya. 

Di situ tetap berlaku prinsip eksklusivisme: saya menyingkirkan diri sendiri (yang seharusnya bisa memberi kontribusi), atau menyingkirkan orang lain (yang seharusnya lebih layak mendapat keringanan). Eksklusi hanya bisa ditolerir kalau memang begitu yang dikehendaki Allah (padahal Allah tidak eksklusif loh): Musa berserah diri di hadapan Allah. Ia tidak memaksakan kuasanya untuk memimpin bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan, melainkan meneguhkan Yosua dan bangsa Israel untuk menjalaninya, karena itulah yang dikehendaki Allah.

Tuhan, semoga aku mampu berempati dengan orang-orang yang tak diperhitungkan dalam masyarakat dan semakin berani memberi kontribusi supaya tak ada yang dikecualikan dalam Kerajaan-Mu. Amin.


HARI SELASA BIASA XIX B/1
Peringatan Wajib St. Clara
11 Agustus 2015

Ul 31,1-8
Mat 18,1-5.10.12-14

Posting Tahun Lalu: Jangan Mentang-mentang Ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s