Satu Dunia?

Konon Soekarno pernah mengatakan bahwa perjuangan kita ini jauh lebih berat daripada perjuangan angkatan Soekarno mengusir penjajah justru karena penjajah sekarang adalah bangsa sendiri. Memang invasi asing terhadap pengelolaan kekayaan alam Indonesia bisa menjadi wujud penjajahan baru, tetapi yang berwenang menata invasi asing adalah orang-orang Indonesia sendiri. Akhirnya, apakah invasi asing itu bisa merajalela ya bergantung dari keputusan orang-orang Indonesia sendiri.

Tak usah lihat invasi asing, bahkan orang Indonesia sendiri bisa melakukan invasi dengan megaproyeknya dan pejabat-pejabat dibuat tak berkutik untuk membiarkan proyeknya sukses mengeruk keuntungan. Pun jika proyeknya merugikan kelompok masyarakat tertentu, dengan lobi sana sini penjajah baru dari negeri sendiri itu bisa saja menang perkara di pengadilan.

Memang, perjuangan Soekarno cs tidak ringan, bahkan pertaruhan nyawa jadi sesuatu yang lumrah; tetapi mereka terbantu karena adanya musuh bersama. Mungkin begitu pula kondisinya saat gerakan mahasiswa ’98 menjadi sorotan dunia. Ada korban nyawa di sana, tetapi gerakan masif mereka tersokong oleh adanya rezim yang jadi musuh bersama. Sekarang ini, gerakan mahasiswa tak lagi bisa masif seperti dulu karena masing-masing kelompok mahasiswa punya musuh sendiri-sendiri. Tak ada komunitas terbayang (immagined community) dalam benak mahasiswa: pokoknya asal dah lulus dan nanti dapat kerja saja ya cukup. Gitu aja kok repot…

Tentu saja, untuk membangun suatu immagined community tak mutlak diperlukan musuh bersama; malah mungkin bisa sebaliknya, immagined community bisa menciptakan ‘musuh’ bersama. Bagaimana? Kalau community itu semakin diperluas: tidak atas dasar agama, tetapi atas dasar kecintaan kepada Allah yang mengatasi agama. Kecintaan kepada Allah inilah yang pada gilirannya memungkinkan orang memberi koreksi atas kesewenang-wenangan manusia terhadap ciptaan lainnya, entah itu alam, makhluk hidup umumnya, atau manusia. Tentu saja ada orang-orang yang tidak menyukai hal ini, dan mereka menyediakan diri untuk menjadi ‘musuh’ Allah (meskipun berteman dengan agama).

Tuhan, semoga aku semakin sanggup meluaskan wawasanku sehingga semakin mampu menerima perbedaan sebagai anugerah cinta-Mu. Amin.


HARI RABU BIASA XIX B/1
12 Agustus 2015

Ul 34,1-12
Mat 18,15-20

Posting Tahun Lalu: Correctio Oke, Fraterna Tunggu Dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s