Correctio Oke, Fraterna Tunggu Dulu…

Bacaan Injil hari ini tak butuh penjelasan bertele-tele. Ini prosedur memberikan koreksi kepada saudara yang jatuh dalam dosa. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa konteksnya ialah koreksi terhadap pribadi sejauh halnya berkaitan dengan dosa [meskipun prosedur ini mungkin baik juga dipakai untuk memberikan koreksi skripsi atau kelemahan orang lain, halah]. Selain itu, jelas juga dikatakan bahwa subjek yang menjadi sasaran koreksi adalah saudara. Tentu dimaksudkan saudara seiman [meskipun bisa juga diterapkan dalam relasi interfaith].

Dalam tradisi hidup menggereja dikenal istilah correctio (baca: koreksio) fraterna yang biasanya dilakukan dalam komunitas-komunitas religius. Ini bisa dilakukan oleh orang yang punya otoritas, tetapi juga oleh sesama anggota komunitas. Mekanisme koreksi persaudaraan ini tentu juga bisa dilakukan antar umat di lingkungan paroki, sekolah, dan sebagainya. Pokoknya empat mata dulu, kalau gak mempan ya enam atau delapan mata (mungkin ada perumusan dari orang lain yang lebih cocok untuk yang bersangkutan), kalau tidak berefek juga, ya baik disampaikan secara publik.

Lha, dulu dalam praktik komunitas religius ada mekanisme yang bisa dibilang lebih sadis: lapidatio (baca lapidatsio; artinya kira-kira ya melempari batu seperti orang-orang Yahudi merajam mereka yang melakukan dosa zinah begitulah). Orang yang di-lapidatio menjadi sasaran kritik dari setiap anggota komunitas dan kritik apa saja bisa diberikan kepada orang tersebut. Praktik seperti ini tampaknya sudah punah.

*****

Orang cenderung kritis terhadap orang lain dan tidak kepada dirinya sendiri. Correctio fraterna sudah selayaknya mengandaikan basic attitude yang kondusif: (1) tujuannya adalah demi pertobatan yang dikoreksi, dan (2) relasi dasarnya ialah persaudaraan dalam iman atau kepercayaan yang kurang lebih sama. Bacaan pertama menunjukkan vision Yehezkiel mengenai situasi kedosaan yang mengantar pada kebinasaan, yang tak dapat ditawar atau diperbaiki lagi. Orang yang memberikan correctio fraterna tidak ingin saudaranya jatuh dalam situasi seperti itu.

Tampaknya itulah yang sulit: kritis terhadap orang lain mudah, termasuk melihat kedosaannya; tetapi menyampaikan koreksi demi kebaikan orang yang bersangkutan sebagai saudara itu, tampaknya lebih susah. Seringkali alasannya bersifat egoistik belaka: ingin eksis, tidak suka dengan perilaku tertentu, benci pada orangnya, dan sebagainya…

Ya Tuhan, mohon rahmat supaya aku dapat menerima pribadi lain sebagai saudara dalam iman dan dapat saling mengembangkan. Amin. 


RABU BIASA XIX
13 Agustus 2014

Yeh 9,1-7; 10,18-22
Mat 18,15-20

4 replies