Face your Waterloo, please!

Ada lagu jadul ABBA yang berjudul Waterloo yang memicu percikan kecil pemikiran mengenai sikap legowo. Memang ini imbas pilpres kali lalu yang memunculkan antonim baru terhadap kata legowo, yaitu prabowo, hehe… maaf sengaja. Tentu saja kalau mau ikut kaidah umum ya prabowo mesti dilawankan dengan pascabowo, dan ‘leg’ kiranya tak punya antonim dalam bahasa Indonesia. Ini catatan kecil yang tidak semuanya penting. Anggaplah legowo vs prabowo itu tak penting.

Ini video klip Waterloo. 

Pada awal lagu disampaikan suatu eksposisi mengenai isi lagu yang menegaskan bahwa sejarah itu membawa pola berulang meskipun subjeknya bisa berbeda-beda, bahkan dengan konteks yang berbeda pula.

My, my, at Waterloo Napoleon did surrender. Oh yeah, and I have met my destiny in quite a similar way. The history book on the shelf is always repeating itself.

Menariknya, dalam lirik itu juga dicantumkan kondisi ketika orang merasa menang, padahal senyatanya kalah: and how could I ever refuse I feel like I win when I lose. Persis itulah yang sekarang ditampilkan dalam panggung politik kita: sekelompok orang berupaya menyangkal kekalahan dengan sekuat tenaga mencari cara apapun yang dianggap bisa mengubah fakta.

*****

Kemampuan menghadapi, dalam arti menerima, kegagalan, kekalahan, pengalaman pahit, jatuh, dikhianati memang erat terkait dengan rahmat pengampunan. Selama orang tidak mengenali resistensi dalam dirinya untuk mengampuni dimensi gelap baik dalam dirinya maupun dalam diri orang lain, ia takkan mampu menerima bayangan gelap hidupnya. Bayangan ini terus dibawanya dan menghambat perkembangan pribadinya sebagai manusia….dan kalau sebagai manusia orang tidak dewasa, perkembangan usianya juga tidak mengembangkan imannya. Orang terus terhantui dengan olah pikir dan olah rasa yang dangkal yang menghambatnya untuk hidup dengan kedalaman.  

3 replies

  1. rama, hidup di dalam kedalaman itu seperti apa ya? Apakah bebas dari kekhawatiran sehari-hari? Atau bisa menjawab dan mengerjakan segala sesuatu dengan baik dan penuh tanggungjawab? Atau bagaimana?

    Like

    • Damar pernah jatuh cinta gak? haha… pakailah metafor itu. Org yg jatuh cinta itu bertindak karena dorongan dari dalam… bukan karena disuruh orang lain utk melakukan A atau B. Dorongan itu dari dalam.
      Kalau org punya byk pengalaman dan merefleksikannya, endapan pengalaman itu bisa jadi pijakan yg gak bikin orang teraduk2 oleh situasi di luar dirinya. Outputnya bisa berupa tanggung jawab dll, tp yg penting orang macam ini jadi tdk grusa-grusu karena perubahan hal-hal di luar dirinya. Org tetap bisa tenang mengendalikan situasi meskipun suasana di luar kacau balau.

      Like

      • Pernah! Hahaha nggih nggih. Jadi, masalah tetap ada dan akan selalu ada dalam kehidupan manusia sehari-hari nggih. Berpengaruh baik atau buruk atau tidak berpengaruh sama sekali ke kehidupan sehari-hari tergantung pada sikap manusianya nggih rama. Sip!

        Like