Ayo Main Hakim Sendiri

Maaf, rada vulgar: rumput halaman tetangga senantiasa tampak lebih hijau daripada rumput halaman sendiri, [Loh, mana yang vulgar je? Ini:] kentut sendiri terasa lebih enak daripada kentut orang lain! Itu untuk mengatakan bagaimana orang cenderung iri hati terhadap kebaikan atau keberhasilan orang lain dan sebaliknya, cenderung mencari kambing hitam atas keburukan diri sendiri. Psikologi mengajari kita bahwa kesalahan orang lain yang paling menjengkelkan biasanya adalah justru kelemahan kita sendiri yang seperti kentut tadi: kita benci adanya pada orang lain daripada adanya pada diri sendiri. Begitulah, secara alamiah kita lebih ingin menyalahkan orang lain daripada mengoreksi kesalahan diri sendiri.

Sebetulnya wajar saja menyalahkan orang lain jika orang lain itu memang salah. Akan tetapi, sebagai suatu metode mengoreksi orang lain, bisa juga seseorang yang lembut hatinya justru menyodorkan kesalahannya sendiri (dan bahkan sama sekali tak menyinggung kesalahan orang lain). “Wah, maaf, bodoh sekali saya tak tahu kamu masih memakai peralatan saya.” (Kenyataannya, peralatan yang dipinjamkan orang itu ditelantarkan, tak terawat) Metode koreksi ini mengandaikan orang yang dikoreksi punya kepekaan tertentu. Kalau tidak, paling banter ia hanya akan menanggapi,”Ya kamu memang bodoh!”

Injil hari ini tidak bicara soal metode koreksi, teguran, atau penghakiman. Yesus tidak melarang hakim menjalankan tugasnya. Bahkan mungkin Yesus mendukung setiap orang untuk ‘main hakim sendiri’! Wah, Romo sableng, ngawur, mosok Yesus mendukung orang main hakim sendiri?! Ya tentu tidak semua hakim didukungnya, tetapi hanya mereka yang menghakimi dengan standar yang benar. Perintah Yesus hari ini tidak bicara soal metode penghakiman, melainkan soal standar penghakiman. Kita masih ingat dalam ajarannya tentang doa dimuat kalimat “Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Kira-kira begitulah standar penghakimannya. Bagaimana kita menghakimi orang lain, begitulah kita akan dihakimi Allah. Maka dari itu, standar penghakiman kita hendaknya sesuai dengan standar penilaian Allah sendiri (dan untuk mengerti standar itu, seringkali orang pertama-tama mesti mengeluarkan ‘balok’ di matanya sendiri). Lha, masih berani main hakim sendiri?

Keping puzzle hanya bermakna penuh dalam hubungannya dengan keseluruhan keping puzzle. Jika kita andaikan diri kita ini adalah sekeping puzzle, dan kita menilai keping-keping lainnya semata dengan tolok ukur kita sendiri, niscaya hal-hal alamiah tadilah yang terjadi. Setiap orang saling mengatakan orang lain bodoh, bebal, keras kepala, dan sebagainya. Akan tetapi, jika orang berhasil memakai cara pandang keseluruhan puzzle, ia pun mampu menempatkan kelemahan/keburukan orang lain (dan kelemahan/keburukan diri sendiri) sebagai bagian dari keindahan hidup yang diinginkan Allah. Abraham yang begitu taat kepada Allah bergerak dari satu tempat ke tempat lain tanpa banyak cingcong karena ia mau menempatkan hidupnya dalam rencana Allah sendiri.

Tuhan, bukalah hatiku supaya semakin dipenuhi kemurahan hati-Mu sehingga mataku pun semakin dapat melihat segalanya dalam cinta-Mu.


SENIN MASA BIASA XII B/1
22 Juni 2015

Kej 12,1-9
Mat 7,1-5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s