Susah Memaafkan?

Pada hari pilpres saya kedatangan sepasang suami istri (katanya) dari kota di Jawa Timur dan mengaku kecopetan. Uang dan tanda identitas hilang. Sekian waktu dipakainya untuk menjelaskan kejadian dan sebenarnya saya ingin to the point mereka butuh uang berapa. Akhirnya saya antar ke terminal dan saya belikan tiket bis dan uang kembalian saya berikan juga sebesar 30 ribu rupiah. Saya percaya bahwa saya ditipu dua orang itu. Uang 100 ribunya sendiri sudah saya ikhlaskan, toh memang dibutuhkan oleh beberapa pihak (dua orang itu sendiri, sopir-kondektur bis, penjual makanan, dll).

Dalam kesadaran bahwa saya sedang ditipu itu, saya masih memenangkan asumsi bahwa dua orang itu jujur. Memori saya menghadirkan pengalaman sebagai pengemis saat dalam kelaparan dan kelelahan mencari penginapan atau sekadar makan dan itu tak selalu mulus. Memori dan imajinasi kerasnya hidup itu memicu bela rasa terhadap dua ‘korban kecopetan dari kota yang jauh’ itu. Entah mereka sungguh kecopetan atau tidak, hidup ini memang keras dan kalaupun mereka sebenarnya tidak kecopetan, sekurang-kurangnya mereka frustrasi dan mencari jalan pintas. Bantuan saya tentu tak banyak artinya dibandingkan dengan kerasnya hidup mereka.


Kemarin sudah dijelaskan soal correctio fraterna, lha kalau toh orangnya gak bertobat dan itu melukai perasaan atau komitmen hidup beriman kita, mesti berapa kali kita mengampuninya? Tujuh kali dalam setahun? Begitulah pertanyaan Petrus. Yesus tidak memberikan jawaban kuantitatif meskipun ia menggunakan angka. Dengan perumpamaan Kerajaan Allah, Yesus menyodorkan suatu pengampunan kualitatif. Apa cirinya? Berangkat dari bela rasa, compassion, dari pemahaman mendalam akan pribadi yang dihadapi.

Mengapa orang yang berhutang jauh lebih besar dalam perumpamaan itu tidak memberi toleransi pada orang lain yang hutangnya sedikit saja? Karena tak ada bela rasa dalam dirinya. Mengapa tak ada bela rasa? Karena ia tidak sungguh bertobat! Masih kita ingat bahwa tobat sangat erat terkait dengan kepedulian atau solidaritas kepada proyek Allah.

Santo Maksimilianus Kolbe, di penghujung hidupnya dalam kamp konsentrasi NAZI masih mewujudkan solidaritas kepada proyek keselamatan Allah itu: alih-alih seorang bapak keluarga yang menjadi gantungan hidup istri dan anak-anaknya dijadikan tumbal atas hilangnya seorang tahanan, biarlah aku yang menggantikannya! The militant desires for everyone the light of faith, happiness, forgiveness of sins, and a heart afire with God’s love. His dream is the happiness of all humanity in God. Itulah pertobatan Maksimilianus: meneruskan belas kasih Allah.

Ya Tuhan, bantulah aku dengan rahmat-Mu untuk senantiasa bertobat sehingga rahmat pengampunan-Mu lebih meraja daripada aneka kesombongan rohaniku.


KAMIS BIASA XIX
Peringatan Wajib St. Maksimilianus Kolbe
14 Agustus 2014

Yeh 12,1-12
Mat 18,21-19,1

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s