Ampun, Bang!

Seorang anak A dimarahi ibunya B karena belum mengerjakan pe er. Bosan dimarahi, tetapi tak berani melawan ibunya, A menyimpan dendam untuk dilampiaskan. Di kelas, ada anak C yang senantiasa menjadi bulan-bulanan bullying dan dialah yang jadi sasaran pelampiasan dendam A. Si C ini tak krasan dengan anugerah bullying yang diterimanya dan memaksa ayahnya D untuk pindah sekolah. Sang ayah D marah mendengar cerita anaknya dan melabrak guru E. Sang guru mendengar penuturan D memanggil ibu B dan menegurnya. Si ibu B tambah marah pada anaknya A. Kemarin dulu alpa mengerjakan pe er dan sekarang tambah persoalan dengan bullying. Anaknya juga semakin menyimpan dendam untuk dilampiaskan. Sasarannya anak C lagi, dan C semakin tidak krasan dan memaksa ayahnya D untuk pindah sekolah. Si D naik pitam dan melabrak lagi guru E. Guru E memanggil ibu B, dan begitu seterusnya.

Spiral kekerasan menaikkan tensi dendam dan hanya bisa dihapus dengan pengampunan, entah siapa pun yang melakukannya. Dalam segala level, pengampunan memutus lingkaran kekerasan. Karena itu, pertanyaan Petrus soal berapa kali orang mesti mengampuni orang lain dijawab dengan angka sempurna: pokoknya setiap kali dibutuhkan pengampunan, pengikut wong edan itu ya mesti memberi pengampunan. Ini bukan soal teknis pragmatis supaya kita tidak kena karma oleh lingkaran kekerasan itu: terlepas dari lingkaran kekerasan dari A, C bisa saja mendapatkan perlakuan keras dari F sampai Z. 

Pengampunan adalah way of life yang menjadi identitas pengikut Yesus. Anjuran pengampunan tanpa batas ini biasanya disalahpahami sebagai pelarian dari masalah, orang berlagak melupakan masalah (forgive and forget). Padahal, sebaliknya, justru kalau orang mengampuni, ia mengerti betul permasalahannya, ia tidak lari dari masalah, tidak hendak melupakannya, tetapi memilih sikap pengampunan daripada meneruskan lingkaran dendam untuk memecahkan persoalan.

Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk mengampuni sesama dan bertindak bukan dengan agenda tambahan membalaskan dendam. Amin.


HARI KAMIS BIASA XIX B/1
13 Agustus 2015

Yos 3,7-10a.11.13-17
Mat 18,21-19,1

Posting Tahun Lalu: Susah Memaafkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s