Healing through total forgiveness

Film Magnolia mengisahkan sosok Frank T.J. Mackey yang wujud penyakit batinnya adalah obsesi pada superioritas laki-laki terhadap perempuan. Jauh dalam lubuk hatinya ia mengalami sakit karena belum bisa mengampuni ayahnya, yang memang brengsek dan sedang sekarat. 

Beban hidup seperti dalam film itu masih bisa dilihat dalam hidup sehari-hari: orang agresif, emosional, meletup-letup, kebencian hebat yang terus dipendam, mual-mual, sakit perut tanpa sebab yang jelas. Orang tidak hidup dalam kedamaian, ketenangan, kebahagiaan karena tidak secara serius melihat pengampunan sebagai pokok penting dalam hidupnya. Padahal, pengampunan total bisa menjadi cara penyembuhan yang baik, mengatasi aneka obat yang disodorkan pelbagai pabrik obat. 

Gagasan ini saya peroleh dari rekaman konferensi yang diberikan oleh John Morgenhagen, seorang pastor dari Amerika Serikat. Saya tidak bisa lagi menelusuri sumber rekaman itu, tetapi saya masih memiliki sedikit catatan dan sebagian saya tuangkan dalam buku Cara Menguji Ketulusan Cinta (hlm. 182-186). Hanya pengampunan total, bukan pengampunan setengah hati, yang bisa membawa dampak kesembuhan seseorang. Pada umumnya orang tidak total dalam mengampuni: masih punya sisa-sisa perasaan mangkel, jengkel, tidak terima penilaian orang lain, merasa diri benar, dan sebagainya.

Pengampunan total memang memerlukan waktu dan bahkan latihan praktis yang untuk setiap orang bisa berbeda, bergantung pada disposisi batin setiap orang maupun persoalannya. Akan tetapi, seberapapun besarnya luka dan persoalan yang mencederai batin (dan fisik) orang, pengampunan bisa dimulai dengan disposisi dasar yang sederhana: tidak menyimpan dendam terhadap orang lain. Kalau orang masih menyimpan dendam, sudah jelas bahwa ia tidak akan mengampuni, berapapun kadarnya. Syarat minimal pengampunan ialah bahwa orang tidak memiliki keinginan balas dendam. Kalau keinginan itu masih ada, tak ada banyak gunanya orang bicara mengenai pengampunan.

Untuk mengampuni itu, ada baiknya orang berangkat dari koreksi terhadap paham pengampunan total. Sekurang-kurangnya ada tiga paham yang sesat mengenai pengampunan total (dapat juga dilihat catatan lain, klik di sini):

  1. bahwa mengampuni berarti melupakan. Melupakan masalah atau pribadi yang bermasalah dengan kita tidak sama dengan mengampuni karena hal itu justru mengendapkan persoalan yang belum selesai ke alam bawah sadar, yang suatu saat bisa keluar tanpa kita ketahui. Berusaha melupakan masalah bahkan justru memberi kekuatan kepada masalah itu untuk mengganggu pikiran dan perasaan kita. Cacat seumur hidup yang diderita orang tentu tidak perlu dilupakan.
  2. bahwa mengampuni berarti menjalin relasi persis seperti sebelum terjadi konflik atau masalah. Dua puluh tahun hidup perkawinan yang diwarnai perselingkuhan yang berkepanjangan, tentu tidak otomatis membuat orang yang dikhianati berkewajiban memercayai pasangannya seolah-olah seperti tidak ada problem. Orang tetap bisa mengampuni tetapi tidak berarti harus kembali pada situasi seperti sebelum problem besar itu muncul. Wajar ada perubahan pola relasi.
  3. bahwa mengampuni berarti menyerah pada situasi sulit, tidak ada pilihan lain. Orang tetap bisa memilih mau membalas dendam atau tidak, dan pengampunan berarti pilihan untuk tidak membalas dendam, bukan karena takut, melainkan karena orang sungguh ingin mengampuni. Mahatma Gandhi contohnya, dengan gerakan non violence-nya.

Ada banyak teknik yang disodorkan untuk proses pengampunan, tetapi uraian ini bertitik tolak dari keyakinan bahwa pengampunan sebenarnya hanyalah syarat minimal kasih atau cinta (sebagaimana tidak mendendam adalah syarat minimal pengampunan). Karena itu, alih-alih sibuk dengan teknik pengampunan, orang bisa berfokus pada pertanyaan bagaimana mencintai orang-orang yang melukai hati dan membiarkan pengampunan itu terjadi melalui kasih yang dibangun itu tadi.

Itulah teknik yang disodorkan Kristus: cintailah musuhmu! Jangan fokus pada bagaimana mengampuni orang yang melukai kita (jawab-Nya tegas: tanpa batas, total, tujuh puluh kali tujuh kali), tetapi fokuslah pada bagaimana mencintai sesama, termasuk yang melukai diri kita.

Bagaimana konkretnya?

Sekali lagi, setiap orang bisa mencarinya sendiri. Yang paling sederhana sekaligus paling mendalam (dan karena itu tidak mudah): berdoa untuk orang yang telah melukai hati kita. Lebih konkret lagi: setiap kali muncul rasa sakit, doakan secara tulus dalam hati satu kali Salam Maria (atau doa apapun seturut keyakinan atau agama orang) demi ujud kebaikan orang yang mencederai hidup kita.
Tentu doa itu juga bisa dituangkan dalam tindakan, sejauh dimungkinkan: merawat orang yang jatuh sakit, membantu orang lain yang sebatang kara, bahkan meskipun orang-orang ini adalah mereka yang pernah menyakiti diri kita. Tindakan yang muncul dari doa yang tulus, pastilah membawa berkat juga untuk yang mendoakannya. Amin.

9 replies

  1. Pingback: A Pathway to God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s