Pilih Rute yang Mana ya?

Yesus ini oleh Injil Lukas digambarkan sebagai sosok orang yang apes, terus menerus ditolak oleh orang lain sejak awalnya. Belum lahir saja kan ortunya sudah susah. Yosef hampir menceraikan Maria yang mengandungnya. Mau lahir juga mesti cari tempat yang gak layak di luar rumah karena tak ada yang mau terima ortunya menginap. Waktu pertama kali tampil di depan publik ia juga mau dijerumuskan orang Nazareth ke jurang di luar desa. Sekarang ini, saat hendak langsung ke Yerusalem dan rutenya yang paling singkat adalah lewat desa di daerah orang-orang Samaria (yang dianggap kafir oleh orang Yahudi), ia pun ditolak orang-orang desa itu. Kelak, ia bahkan mati di luar kota Yerusalem. Para murid maunya orang-orang seperti itu dihabisi saja! Akan tetapi, Yesus memilih rute lain, di luar apa yang dipikirkan murid-muridnya.

Ayub dalam bacaan pertama digambarkan sebagai sosok yang mengutuki hidupnya. Ia terperangkap logika bahwa orang yang takwa kepada Tuhan pastilah hidupnya sukses, tidak sengsara. Kenyataan yang menimpanya berbeda dari logika itu: dia benar-benar taat pada Tuhan, tak secuil pun punya pikiran melenceng dari kehendak Tuhan, tetapi toh tetap terkena bencana dan hancurlah seluruh hidupnya! Ujung-ujungnya sama saja: semua orang berakhir di liang kubur. Kalau begitu, mengapa gak sejak lahir aja langsung masuk liang kubur?! Kenapa masih dibiarkan tetap hidup kalau ujung-ujungnya kemalangan begini sama seperti orang-orang fasik juga?

Rute yang dipikirkan Ayub, para rasul, dan Yesus berbeda. Ayub mencari rute singkat dengan mengutuki kelahiran dan kematian sebagai ujung hidupnya. Para rasul mau menghabisi saja orang-orang fasik yang cari gara-gara supaya perjalanan ke Yerusalem tak terhambat. Yesus menunjukkan bahwa dalam perlakuan terhadap sarana pun tujuan mestilah sudah ditampakkan: wong tujuannya memuliakan Tuhan kok caranya dengan menghabisi sesama!

Alih-alih menghabisi hidup dengan kekerasan, lebih baik dengan sabar mencari rute lain yang memungkinkan orang menampakkan kemuliaan Allah itu sendiri: jalan kasih dan pengampunan.


SELASA BIASA XXVI
Peringatan Wajib Santo Hieronimus
30 September 2014

Ay 3,1-3.11-17.20-23
Luk 9,51-56

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s