Omong Kosong Dialog Antaragama (1)

“Mengapa sih Bapak selalu menolak diajak dialog antaragama?” seorang wartawan menanyai Gubernur Ahong (gak tau, ini gubernur sebelah mana dan kapan ya?) setelah ia menyatakan tidak bersedia menemui kelompok Forum Pembela Agama Ajah (entah agama apa pula ini).
“Ah, jangan lebay gitu, gak selalu saya menolak.”
“Tapi dengan kelompok ini Bapak bahkan gak pernah bersedia ketemu, kan?” (loh ini wartawan apa Mata Najwa sih? Gayanya itu loh!)
“Ya iya dong, ngapain saya ketemu kelompok yang gak jelas gitu? Mana ada di sini agama Ajah? Kerjaan saya ini banyak, gak mau saya buang waktu untuk hal gak jelas begitu.”
“Hahaha…iya, Pak. Ini kan wawancara imajiner. Jadi namanya juga ikut imajiner, Pak. Bapak kan juga nama sebenarnya bukan Ahong, saya tahu itu, heeee…”
“Wah kamu itu. Sudah, ini saya keburu mau pergi.”
“Eh, sebentar! Bapak belum jawab pertanyaan saya. Sepertinya Bapak punya kriteria untuk menemui kelompok dalam masyarakat, apalagi yang berbau-bau agama begini.”
“Lha ya jelas dong. Kamu kan tahu, ketemu orang itu perlu jelas juntrungnya. Kamu ke sini kan juga jelas mau apa, kalau enggak, sudah saya usir kamu dari tadi.”
Ya’ela, Pak, galak amat. Tapi apa kriteria Bapak itu?”
“Pertama harus jelas ketemu itu untuk apa: mau dialog, mau debat, atau mau perang. Itu harus klir dulu! Dan saya tidak mau debat, tidak mau perang juga.”
“Loh kan tadi saya bilang ini konteksnya dialog antaragama, Pak.”
“Mana ada dialog sama preman?! Kamu tau, saya ini preman juga, tapi hati saya ini lumayan baiklah.”
“Brarti Bapak menuduh kelompok FPAA itu berhati jahat dong.
“Itu kamu yang bilang. Saya cuma katakan saya ini juga preman, tapi saya merasa hati saya ini lumayan baik. Saya tidak bilang mereka berhati jahat, tetapi saya ngerti bahwa saya gak mungkin dialog dengan mereka.”
“Loh, kenapa, Pak? Mereka kan tidak mau debat, apalagi perang!”
“Ya kamu lihat aja dong namanya. Front Pembela Agama Ajah.”
“Bukan Front, Pak, tapi Forum!”
“Ya itu maksud saya. Mereka membela agama. Saya bekerja di sini bukan untuk membela agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan lain-lainnya. Saya bekerja untuk membela masyarakat semua saja. Ini kan platform-nya beda. Kepentingannya beda. Dialog baru jalan kalau platform-nya kurang lebih sama. Entah sama-sama membangun lingkungan yang sehat, sama-sama mau meningkatkan kesejahteraan ekonomi setiap warga. Pokoknya, platform-nya adalah membela kehidupan bersama, dan bukan membela agama masing-masing.” Gubernur Ahong mulai panas ala timnas Jerman.
“Oh, jadi dialog antaragama itu malah bukan dialog soal agamanya ya, Pak?” [Si wartawan ini… kuliah di mana ya? Cerdas juga ya menangkap persoalan]
“Ya istilah itu kan sebetulnya mau menunjukkan dialog antarumat beragama untuk kepentingan bersama. Begitu, kan?” Sang Gubernur mulai redup kembali.
“Iya, Pak. Tapi mereka kan juga bisa diberitahu baik-baik soal hal ini sehingga platform-nya kurang lebih nantinya jadi sama.” Si wartawan menatap mata Gubernur dan tatapan itu malah menyulut api Gubernur yang tadi sudah mulai meredup penuh kebijaksanaan orang tua.
“Saya tadi kan bilang. Saya ini juga preman. Saya tahu tampang-tampang mereka. Untuk bikin platform yang sama itu dibutuhkan ini nih,” Gubernur Ahong menepuk-nepuk kepalanya. “Butuh kepala ya, Pak? Mereka kan juga punya kepala,” [Hadeeeh… wartawan ini minta ditimpa gilesan ya]
“Iya, tapi yang penting isi kepalanya itu apa. Kalau di kepala yang ada cuma agama, agama, dan agama, ya mau hidup bagaimana di dunia yang majemuk begini? Kamu bisa tanya kok mereka itu sekolah sampai tingkat apa.”
“Loh apa maksud Bapak dialog antaragama itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang pendidikannya satu level, begitu?”
“Ya jelas dong. Minimal perbedaan levelnya gak jauhlah. Kalau bedanya jauh, mana sambung dialognya?”
“Jadi Pak Ahong ini menganggap beda levelnya jauh ya dengan kelompok FPAA itu? Siapa nih yang levelnya lebih tinggi?” [Wartawan nakal!]
“Terserah siapa yang merasa lebih tinggi, saya bisa bilang lebih tinggi karena saya kuliah sampai master, tetapi mereka bisa juga bilang lebih tinggi karena menganggap lebih paham mengenai agama Ajah. Tapi, kamu bisa lihat sendiri kan, mana mungkin orang membela agama tapi gak peduli dengan kepentingan bersama? Mereka pakai ancam mengancam, demo-demo tapi bikin kotor jalan, bahkan merusak tanaman! Mana ada agama ngajarin orang gak peduli lingkungan? Dialog pun untuk mereka isinya ancam-mengancam dan bisa jadi keroyokan.”
“Oh, mungkin Bapak takut ya dikeroyok mereka?” Si wartawan ini malah mringas-mringis.
“Saya gak takut. Saya bilang, saya gak mau buang waktu untuk dialog yang gak jelas juntrungnya. Kalau mereka memang bener mau dialog antaragama, mereka mesti concern dulu pada kehidupan bersama. Kamu pernah lihat gak kelompok itu rame-rame protes pejabat yang korupsi? Pernah lihat gak mereka aktif demo ke pabrik yang mencemari lingkungan? Pernah tahu gak mereka ikut bersih-bersih kali yang sampahnya bikin mampet?”
“Ya enggak, Pak. Justru mereka kan namanya juga FPAA, jadi fokusnya pada agama Ajah itu dong.”
“Iya, tapi mereka berkoar-koar gak sewaktu pejabat dari agama Ajah itu jelas-jelas korupsi atau bikin skandal? Mereka diam, kan?!”
“Ya kan tiap orang juga bisa khilaf, Pak”
“Nah, justru itu maka jangan berpatokan pada agama Ajah! Agama apapun, penganutnya bisa khilaf; setiap orang bisa saling mengingatkan kalau fokusnya hidup bersama. Ini dialog kehidupan kan. Kita ini hidup di atas tanah yang sama. Jadi berangkatlah dari situ. Kalau belum, jangan ngimpi deh dialog antaragama!”
“Oh, jadi maksud Pak Ahong ini, dialog antaragama baru jalan kalau masing-masing lepas dari kepentingan pribadi atau kelompok dan kelompok FPAA ini untuk dialog dengan Pak Ahong mesti membuktikan mereka punya concern pada hidup bersama, begitu ya, Pak?”
“Ya begitu dulu saja deh.” Pak Gubernur mulai hendak beranjak.
“Loh kok begitu dulu saja, Pak. Ini belum selesai loh.”
“Ya nanti kapan-kapan saja lanjut, saya mau pergi.”
“Mau pergi ke mana, Pak?” [olo olo olo… kepo… namanya juga wartawan]
“Saya mau futsal.”
“Loh, Gubernur ini juga main futsal toh, Pak?”
“Ya kan ini futsal imajiner… katanya tadi imajiner.”
“Oh iya, tepok jidat, Pak” Si wartawan mringis ala kuda semilyar…

to be continued….

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s