Zaman Modern Gini Masih Percaya Malaikat?

Sewaktu saya duduk di kelas 6, saya pulang dari kegiatan di gereja Blok B berjalan kaki pada sekitar jam sepuluh malam (buset deh ini anak kecil keluyuran sampai malam!) menyusuri Jalan Melawai dan Wijaya I. Setibanya di perempatan  gereja Santa, saya turun dari trotoar hendak menyeberang Jalan Wolter Monginsidi. Jalanan sedang sepi saat itu tetapi setelah saya menapak aspal saya segera berlari menyeberang.

Saya sangat hobi bermain bentengan dan saya termasuk yang sangat lincah dan cepat berlari. Jadi, untuk mencapai jalur pemisah di tengah jalan itu secara matematis pasti tidak membutuhkan waktu lebih dari dua atau tiga detik. Saya juga sudah biasa menyeberang jalan di perempatan itu. Untuk berjalan menyeberang saya tidak butuh waktu lebih lama dari lima detik.

Akan tetapi, ketika saya sudah mulai lari, dari arah SD Tar-Q saya lihat sorot mobil dan saya menambah kecepatan lari saya. Saya pikir, saya pasti mencapai divider sebelum mobil itu sampai di tempat saya menyeberang. Sekuat tenaga saya berlari dan tiba-tiba saya merasa lari saya begitu berat dan tahu-tahu hidung saya ini terserempet angin yang dibawa mobil itu. Taksi. Mata saya menatap sekejap mobil itu di depan saya!

Sesampai di seberang, saya menangis (Huh… cengeng lu).

Seharusnya saya lebih dulu tiba pada divider itu. Jarak antara tempat taksi njedhul (muncul) dan saya berlari itu pasti lebih dari 200 meter, dan jika saya berlari kencang menyeberang butuh waktu tiga detik (lebar jalan sekitar lima meter), tentu saya lebih cepat sampai pada divider, kecuali kecepatan taksi itu lebih dari 240 km/jam! Kecepatan seperti itu tertera pada speedometer, tetapi saya tak yakin bahwa taksi itu dipacu dengan kecepatan seperti itu. Pun jika memang kecepatannya 240 km/jam, seharusnya malah saya tertabrak moncong sisi kanannya, tetapi ini bahkan saya berada di sisi kiri taksi. Wis, gak ngerti lagi deh saya hitung-hitungan matematikanya bagaimana. Absurd!

*****

Bacaan pertama menunjukkan penglihatan Daniel atas setting tempat Sang Hakim Agung bersama majelis pengadilan (semacam MK begitu keles) dengan ribuan malaikat yang menjadi pelayan. Mereka melayani proses pengadilan, mengantar manusia untuk berjumpa dengan Hakim Agung itu. Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana Filipus mengundang Natanael untuk berjumpa dengan Yesus. Tidak dikisahkan bahwa Filipus omong berbuih-buih untuk menjelaskan sosok Yesus kepada Natanael. Ia berkata singkat, “Datang dan lihatlah!”

Kepercayaan kepada malaikat agung itu… mau dijelaskan bagaimana ya? Datang dan lihat sajalah! Piye melihatnya? Ya lihat pengalaman ke belakang saja: ada momen-momen ketika kita ‘lepas kendali’ tetapi ternyata hidup kita toh masih terkendali. Ini pasti bukan kebetulan. Pasti bukan kebetulan bahwa taksi itu tak menabrak saya. Mengapa tidak kita pandang sebagai campur tangan malaikat pelindung? Tapi ya sumonggo sih kalau mau melihat itu sekadar kebetulan. Saya lebih percaya pada penelitian sains bahwa semesta ini memiliki finalitas… punya tujuan, dan segala hal yang terjadi di dalamnya tentu bergerak ke sana.

Maka, pada momen hidup yang tak terjelaskan itu, alih-alih ribet dengan argumentasi kepala, mengapa tidak kita berdoa melalui malaikat atau Bunda Maria, atau para kudus, dan lain-lainnya?
Tuhan, bantulah aku supaya semakin rendah hati menyerahkan hidupku ke dalam penyelenggaraan-Mu.


PESTA MALAIKAT AGUNG (Mikael, Gabriel, Rafael)
(Senin Biasa XXVI A/2)
29 September 2014

Dan 7,9-10.13-14
Yoh 1,47-51

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s