Omong Kosong Dialog Antaragama (2)

“Kita lanjutkan lagi perbincangan tentang dialog antaragama kemarin ya Pak Ahong. Kemarin Bapak bilang untuk melakukan dialog antaragama perlu dipenuhi syarat yaitu…. apa ya… peserta dialognya mesti lepas dari kepentingan diri dan mesti sama-sama berfokus pada kepentingan bersama.”

“Ya itu namanya dialog kehidupan. Orang mesti berangkat dari kenyataan hidup bersama, yaitu ada hal-hal yang jadi keprihatinan bersama, entah keadaan ekonomi, politik, budaya, atau hukum yang berlaku. Ini adalah soal-soal yang dihadapi bersama, apapun agama dan keyakinannya. Gak mungkin UUD ’45 itu hanya demi kepentingan agama tertentu, kan?”

“Tapi Bapak juga kemarin katakan bahwa kelompok seperti FPAA itu mesti menunjukkan kerja mereka dalam bidang-bidang itu ya?”

“Betul, karena gak cukup kita hanya berkoar-koar menyatakan prihatin, tapi juga mesti bekerja sama menanggapi keprihatinan itu dengan tindakan nyata.”

“Apa itu yang dimaksud sebagai dialog tindakan, Pak Ahong?”

“Iya betul. Wah kamu itu kok tahu itu, dari mana?”

“Oh itu karena dapet bocoran dari penulisnya, Pak. Saya ini kan wartawati, jadi gaul gituloh.” Nyengir kuda semilyar lagi.

“Kalau begitu sebetulnya kamu gak perlu wawancara saya dong. Kamu sudah tahu apa yang mau saya katakan kok.”

“Ya bukan begitu, Pak. Ini wawancara kan subjeknya Pak Ahong.”

“Iya, tetep, kamu kan bisa tulis aja wawancara dengan Gubernur Ahong; isinya apa yang kamu pikir. Gitu kan bisa. Iya, kan?”

“Hahaha….wawancara ini saja sudah imajiner Pak, mosok mau saya bikin fiktif lagi. Tapi kalau sudah sampai dialog kehidupan dan tindakan, apa otomatis dialog antaragama jalan, Pak?”

“Nah, menurut kamu sendiri bagaimana?”

“Kalau saya sih, dua model dialog itu kan baru memberikan platform horisontal, jadi belum ada muatan dialog antaragamanya, Pak. Maksud saya, dialog seperti itu juga bisa dibuat bahkan antara kelompok orang tak beragama.”

“Nah, itu kamu tahu.”

“Lalu apa yang bisa bikin orang masuk dalam dialog antaragama yang sesungguhnya, Pak?”

“Menurut kamu apa?”

“Loh, saya ini kan mewawancarai Bapak kok malah Bapak balik tanya?”

“Karena saya tahu kamu sebenarnya sudah tahu jawabannya kok.”

“Yang ini saya gak tau beneran, Pak.”

“Kamu jangan kayak pejabat yang pintar bersandiwara ya!” Sang Gubernur menuding muka wartawan.

Beneran, Pak, saya gak tau. Saya tahunya istilah dialog teologis.”

“Apa itu maksudnya?”

“Yah, Bapak. Saya cuma tahu istilah. Kira-kira seperti dialog mengenai ilmu ketuhanan begitu deh berdasarkan Kitab Suci atau warisan rohani agama yang lainnya.”

“Apa menurut kamu mungkin dialog seperti itu?”

“Menurut saya itu omong kosong, Pak.”

“Loh, kenapa?” Sang Gubernur mulai lebih serius.

“Karena platform masing-masing agama kan beda, Pak. Dialog kehidupan dan tindakan sih gak masalah karena pijakannya sama, yaitu kenyataan hidup sehari-hari; persepsinya bisa disamakan menurut kaidah ilmu pengetahuan yang berlaku lintas agama. Soal kesejahteraan ekonomi bisa dikaji bersama-sama melalui ilmu ekonomi. Kalo persepsi agama, gimana mau menyamakannya? Tiap agama punya ilmu keagamaan sendiri-sendiri?”

“Ooo…apa itu yang kamu maksud sebagai incommensurability?”

“Iya betul, Pak. Seperti saya perempuan, Bapak laki-laki ini kan pasti ada hal-hal yang incommensurable. Kita masih bisa membanding-bandingkan, tapi gak bisa sungguh-sungguh mengerti. Bapak kan gak bisa merasakan sakitnya melahirkan atau sakit bulanan. Paling-paling bisa membanding-bandingkan, tetapi gak sungguh-sungguh mengerti.” [Ternyata wartawan ini perempuan toh]

“Oh, jadi menurutmu kalau ada yang incommensurate itu kita gak bisa berdialog, begitu?”

“Ya jelaslah, Pak. Bapak sendiri kan tahu bahkan ahli agama Ajah itu merasa diri menguasai kristologi, padahal kristologi yang dia maksudkan itu adalah ilmu tentang agama Kristen, bukan? Padahal, kristologi yang Bapak pahami pasti beda dengan pemahaman mereka, iya kan? Nah, kalau konsep elementer saja sudah beda, bagaimana mau berdialog? Kalau persepsi tentang Kitab Suci saja beda, bagaimana mau omong bersama soal isi Kitab Suci, bukan? Masing-masing punya tolok ukur sendiri, bagaimana mau dialog, ya gak mungkin dong!”

“Loh, kamu kok jadi bela’in saya? Bukannya kemarin kamu heran kenapa saya gak mau ketemu FPAA itu untuk berdialog?”

“Hahaha… iya, Pak, soalnya saya juga pernah ketemu orang seperti kelompok FPAA ini. Mereka menyalah-nyalahkan Kitab Suci saya dengan tolok ukur pemahaman Kitab Suci mereka. Pikir mereka Kitab Suci saya itu langsung diturunkan oleh Allah dengan bahasa tertentu sementara saya percaya Kitab Suci yang saya pakai itu memang dibuat juga dengan peran manusia yang menuliskannya, jadi pasti ada konteks sejarah dan budaya tertentu yang masuk di situ. Ini kan jadi susah ketemunya.”

“Susah itu tidak berarti gak bisa, kan?”

“Hahaha… bukan susah deh, Pak; gak bisa!”

“Jadi menurutmu penyamaan persepsi tidak bisa dilakukan dalam keadaan incommensurate tadi ya? Begitu?”

“Betul, Pak.”

“Kamu salah!”

Si wartawan terbelalak, tak mengira jawabannya disalahkan.

“Salah gimana, Pak?”

“Ya salah. Meski keadaannya incommensurable, kamu masih bisa mengupayakan penyamaan persepsi.”

“Caranya gimana, Pak?”

“Kamu melupakan satu dimensi dialog antaragama yang lain: dialog pengalaman religius!”

“Oh engga’, Pak. Itu dialog yang memungkinkan orang berbagi pengalaman religius, kan? Salah satu contohnya ada di https://versodio.com/2014/09/29/zaman-modern-gini-masih-percaya-malaikat, begitu kan, Pak?”

“Nah itu kamu tahu!”

“Iya, Pak, tapi apa hubungannya dialog pengalaman religius dengan dialog teologis tadi? Itu kan bukan dialog teologis sama sekali?”

“Betul, tetapi itu memberi platform. Kalau orang sadar akan pengalaman religiusnya, dia akan mengerti bahwa pengalaman seperti itu bersifat universal. Artinya, bisa terjadi pada siapa saja yang melihat adanya sentuhan dengan yang transenden, yang melampaui kemampuan dirinya sendiri atau manusia pada umumnya.”

Si wartawan melongo.

Gak nangkap saya, Pak.”

“Wah…kamu lapar kelihatannya.” Si wartawan meringis. “Sudah nanti lain kali saja dilanjutkan kalau kamu masih mau lanjut.”

“Iya nih Pak dari tadi sebetulnya saya sudah menahan lapar, hahaha. Terima kasih Pak Ahong, sampai jumpa.”

to be continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s