Otak di Balik Hukum

Ini dagelan kuno lagi. Tokohnya tetap Tiwal dan Tiwul. Setelah menerima gaji bulanan, Tiwal menawarkan permainan berbau-bau judi kepada Tiwul. “Kamu melontarkan pertanyaan ke aku. Kalau aku gak bisa jawab, aku bayar kamu 10 ribu rupiah. Sebaliknya, nanti kalau aku tanya kamu dan kamu gak bisa jawab, kamu bayar aku 20 ribu. Pertanyaannya harus seputar tempat kerja atau orang-orang di tempat kerja kita.” Tiwul mengangguk-angguk setuju. Permainan ini menantang juga untuk menunjukkan siapa yang lebih berpengetahuan di tempat kerja mereka.

Lima pertanyaan pertama mereka bisa saling menjawab. Sampailah pertanyaan keenam dan Tiwul kebingungan menjawabnya. Tiwal bertanya,”Kapan atau di mana bos kita dan istrinya itu jatuh cinta pada pandangan pertama?” Nah lu, Tiwul geleng-geleng karena memang meskipun dia sering sms dan telpon bosnya, ia tak pernah kepo soal pribadi bosnya. Tiwal mengkode Tiwul untuk memberikan uang 20 ribu. Tiwul mengambil uang di dompetnya dua lembar sepuluh ribuan dan memberikannya kepada Tiwal. Diterimanya uang itu dengan muka cerah, tetapi segera Tiwul bertanya balik,”Memangnya di mana bos kita dan istrinya itu felt in love at the first sight?” Sembari mringis, Tiwal menyodorkan selembar uang sepuluh ribu kepada Tiwul. Lumayan kan dapat sepuluh ribu!

Lima pertanyaan tidak memberi keuntungan bagi Tiwal Tiwul karena keduanya sama-sama bisa menjawab. Lha, pada pertanyaan keenam ini keduanya sama-sama tidak bisa menjawab, tetapi mengapa Tiwal bisa mengambil untung dari permainan yang disodorkannya? Karena aturan atau sistem permainannya tidak adil. Tiwal dapat 20 ribu, Tiwul 10 ribu. Kalau mau adil, aturan hukumnya juga mesti dibuat adil.

Akan tetapi, Yesus tidak berhenti di situ. Sistem yang adil pun tetap bisa dilanggar oleh orang jahat (namanya juga jahat). Dengan keterangan Sabda Bahagia dari Injil Matius Yesus mengindikasikan pokok yang melampaui keadilan sistem. Hukum yang berlaku saat itu ialah hukum pembalasan: mata ganti mata, gigi ganti gigi, 20 ribu ganti 20 ribu. Ini tentu adil, tetapi itu adalah kriteria keadilan manusiawi dan persis kriteria itulah yang dikritisi Yesus. Adalah lebih membahagiakan memenuhi kriteria keadilan Allah daripada keadilan manusiawi. Bottom linenya: tidak menyimpan dendam. Wujudnya: pengampunan. Fokusnya: mencintai orang lain. Tolok ukurnya: doa yang tulus untuk kebaikan orang lain. Susahnya, Brow!


SENIN MASA BIASA XI B/1
15 Juni 2015

2Kor 6,1-10
Mat 5,38-42

Posting Tahun Lalu: Agama Modus, Masyarakat Cerdas

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s