Agama Modus, Masyarakat Cerdas

Bottom line dari pengampunan ialah tidak menyimpan dendam kepada orang lain.  Orang bisa saja tersenyum ramah dan berkata-kata baik mengenai orang lain yang berbuat jahat (atau sekurang-kurangnya dianggapnya menyakiti dirinya). Akan tetapi, senyumnya semu dan pujiannya palsu jika dalam hatinya masih ada dendam yang tersimpan. Meskipun berulang-ulang mengatakan aku rapopo atau sudah memaafkan orang lain, jika dendam itu masih ada, ia tidaklah mengampuni orang lain.

Yesus mengajar pendengarnya untuk menerima kejahatan sebagaimana adanya. Loh, piye sih? Masak kita biarkan kejahatan? Bukan, brow! Jangan mengubah kalimat dong! Yesus mengundang para pendengarnya supaya menangkap logika kejahatan sebagai bagian kehidupan ini. Tentu orang boleh dan mungkin bisa menentang atau melawan kejahatan itu; tetapi Yesus menegaskan bahwa tindakan pengikutnya mesti mengatasi sisi buruk logika kejahatan tadi. Dengan apa? Dengan pengampunan.

Maka dari itu, bukan kristiani namanya kalau orang membenarkan tindakan keras atau jahatnya dengan argumen, “Dia dulu yang memulainya!”

Yesus menunjukkan tiga kiasan orang yang mengatasi bottom line pengampunan: memberikan juga pipi kiri, menyerahkan jubah juga, dan berjalan sejauh dua mil (dari satu mil yang diwajibkan). Ini mengandaikan bahwa orang tahu ada hal-hal yang tak bisa diubah sehingga darinya dituntut sikap menerima tanpa gerutu, tanpa emosi, tanpa dendam. Jika disposisi batin seperti itu ada, orang lalu bisa fokus bukan pada soal bagaimana membalas kejahatan, melainkan pada bagaimana melakukan kebaikan bahkan juga bagi mereka yang berbuat jahat.

Acab-desea-la-vina-de-NabotUndangan Yesus ini jelas bertentangan dengan apa yang dibuat Raja Ahab terhadap Nabot dalam bacaan pertama. Sial bagi Nabot, ia punya kebun anggur di samping istana Raja. Raja meminta tanah itu bahkan dengan prosedur yang benar dan baik, tetapi Nabot rupanya tidak ingin melepas tanah warisannya. Kecewa karena ditolak, Ahab termakan oleh plot Izebel, isterinya. Izebel membuat plot yang melibatkan modus (modal dusta) tokoh pemimpin agama. Fitnahan para pemimpin agama begitu efektif: Nabot dihukum rajam sampai mati.

Orang-orang kota Nabot waktu itu tentu saja tidak punya kesadaran modus agama: namanya agama ya pasti baik dong! Akan tetapi, sekarang ini mestinya orang semakin sadar bahwa tokoh agama pun bisa jadi bermodus, bisa diperalat kepentingan politik, bisa dibayar demi memenangkan calon presiden atau wakil presiden: menyatakan perang badarlah, menyatakan haramlah, dan sebagainya…

Semoga masyarakat kita semakin cerdas dan kekuatan pengampunan lebih kreatif untuk memperjuangkan kesejahteraan umum. Amin!


SENIN BIASA XI
16 Juni 2014 

1Raj 21,1b-16
Mat 5,38-42

2 replies

  1. Pingback: A Pathway to God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s