Allah 3D

Gereja Katolik setiap saat mengingatkan umatnya akan kenyataan Allah Tritunggal ini dengan aneka cara: tanda salib, rumusan doa “Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus”, rumus penutup doa imam dalam Ekaristi “Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, yang hidup bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus…”

Sayangnya, penegasan dengan kata “Amin” pada setiap rumusan itu tidak otomatis juga berarti orang mengerti atau memberi isi pada rumus. Artinya, orang mendaraskan kata-kata tetapi hatinya bergeming dengan hafalan rumus, tak memberi jiwa pada kata-kata.

Film 3 dimensi lebih melibatkan penonton secara visual (dan mungkin juga karenanya secara emosional bisa terpengaruh). Barangkali, Allah Tritunggal pun bisa dimengerti dengan visual 3 dimensi itu. Ada proyektor yang menyorotkan film, ada medium yang memungkinkan film terlihat oleh penonton, dan ada kacamata yang memungkinkan film tertangkap sebagai 3 dimensi. Bisakah proyektor itu Allah Bapa, dan mediumnya adalah Sang Putera, dan kacamata 3D adalah Roh Kudus?

Lha yo sumonggo kalau mau memahami begitu; itu hanyalah analogi yang tentu punya keterbatasan. Sekarang ini bahkan sudah ada wahana 4D, bukan hanya 3D visual lagi, tetapi sudah melibatkan aspek yang lebih komplet dalam simulasi pengalaman gerak orang. Lha, njuk mau dipertahankan bagaimana itu Allah 3D?

Kiranya bukan 3D atau 4D yang pokok. Yang pokok ialah umat beriman terlibat dalam relasi Kasih dari Allah Tritunggal. Allah yang mengatasi ruang-waktu kita namai Bapa (sebagaimana diajarkan Yesus sendiri untuk menyapa Allah di surga sebagai Bapa), sedangkan Allah yang hidup dalam ruang-waktu sejarah semesta ini kita namai Putera, yaitu Yesus Kristus, dan Allah yang tinggal dalam diri manusia (supaya bisa menangkap Bapa dan Putera tadi) kita namai Roh Kudus.

Apakah ini hanya soal penamaan? Tentu tidak! Dalam Kitab Suci pun tidak ada rumusan Allah Tritunggal. Akan tetapi, rumusan itu adalah refleksi umat beriman dalam rangka terlibat dalam relasi cinta Allah: Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Semakin orang terlibat dalam relasi kasih itu, semakin ia menangkap dimensi Allah Tritunggal (bukan hanya 3D atau 4D, tetapi sungguh multidimensional). So, kuncinya adalah sungguh-sungguh relasi cinta. Tanpa pengalaman cinta, mustahil orang menangkap kenyataan Allah Tritunggal.

Tahun lalu, Paus Fransiskus menyampaikan pesan pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus begini. Terang Paska dan Pentakosta memperbaharui kegembiraan dan suka cita iman dalam diri kita: marilah kita akui bahwa Tuhan bukan melulu sesuatu yang samar-samar….Ia bisa disentuh; Ia bukan sesuatu yang abstrak tetapi punya nama, Allah adalah Kasih. Cinta-Nya bukan tipe sentimental emosional, melainkan cinta Bapa sebagai asal segala kehidupan, cinta Putera yang mati di salib dan dibangkitkan, cinta Roh Kudus yang memperbaharui manusia dan dunia. Memahami bahwa Allah adalah Kasih itu membawa sangat banyak kebaikan karena hal itu mengajari kita untuk mengasihi, memberikan diri kepada sesama seperti Yesus sendiri memberikan diri bagi kita, dan kita berjalan bersama Yesus. Kristus berjalan bersama kita sepanjang jalan kehidupan.


HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS A/2
Minggu, 15 Juni 2014

Kel 34,4b-6.8-9
2Kor 13,11-13
Yoh 3,16-18

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s