Ikhlaskanlah…

Om saya muslim [Njuk ngapa trus napa?]. Kami naik taksi dan duduk di jok belakang. Anaknya duduk di samping driver yang sedang bekerja, mengendali mobil supaya baik jalannya. Topi kesayangannya dibawa sepupu saya yang duduk di depan. Dia masih anak SD. Mobil berhenti tidak mulus karena om saya agak mendadak memberi aba-abanya (tetapi lebih tepat karena drivernya agak serampangan menginjak pedal rem). Sepupu saya terantuk dashboard karena safety belt tak dikenakannya (memang sepupu saya ini rada bandel, tidak seperti sepupunya). Saat itu om saya menarik sepupu saya ke belakang, membuka pintu dan turun setelah membayar ongkos taksi. Saya juga turun tanpa membayar dan lupalah kami topi kesayangan om saya.

Setelah beberapa menit berdiri di pinggir jalan, teringatlah om saya pada topinya, dan saya merasa bersalah karena saya pun kurang memperhatikan keberadaan topi tadi. Saya mencoba mengingat-ingat identitas taksi dan driver taksi yang kami tumpangi itu tetapi tak ada memori yang terkuak selain nama armada taksinya. Saya usul untuk menelpon kantor taksi itu (meskipun saya juga tak ingat nomernya… bisa juga sih tanya mbak 108), tetapi om saya menjawab,”Sudahlah, aku sudah ikhlas.” Sikap itu melegakan om saya, melegakan saya juga.

Memang mengikhlaskan barang kesayangan lebih mudah daripada mengikhlaskan nyawa: kelekatan-kelekatan hidup kita, harga diri, status, nama baik, dan sejenisnya. Sebagian orang marah jika dikritik baik-baik, sebagian orang mendiamkan orang lain yang memberikan koreksi. Ada juga yang malah agresif menyerang orang lain saat ditunjukkan kesalahannya. Orang-orang seperti ini tidak memiliki ketulusan hati seperti ditunjukkan oleh om saya: tidak ikhlas bahwa bagian dirinya terkoyak atau bahkan hilang. Tanpa keikhlasan hati itu orang memelihara dendam dan kebencian. Koreksi atau masukan malah diterimanya sebagai hal yang meruntuhkan harga dirinya.

Persis di situlah berlaku apa yang dikatakan Yesus: kalau kita hanya mempertahankan nyawa, kita malah kehilangan nyawa itu. Nyawa itu milik Allah dan Dia pula yang akan mempertahankannya, bukan sebaliknya. Tugas kita adalah memberi kondisi supaya nyawa itu terus mengalami transformasi sampai tersambung secara definitif dengan Allah sendiri. Salah satu kondisi itu adalah keikhlasan, ketulusan hati. Semakin orang ikhlas, semakin ia memperoleh banyak dalam hidupnya. Sebaliknya, semakin orang tidak ikhlas, semakin ia terkungkung oleh kecupetannya sendiri dan jadi bulan-bulanan objek kelekatannya. Kagak bakalan move on

Tuhanku, mampukanlah aku untuk berdamai dengan kegelapan hidupku dan menjadi transparan di hadapan-Mu, tetapi juga di hadapan sesama, supaya aku dapat tumbuh dalam iman kepada-Mu sebagai penyelenggara hidup. Amin.


PESTA ST. LAURENSIUS
(Senin Biasa XIX B/1)
10 Agustus 2015

2Kor 9,6-10
Yoh 12,24-26

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s