Walk the Talk

Kiranya pernah kita dengar ungkapan seperti ‘kamus berjalan’, ‘ensiklopedi berjalan’ dan sejenisnya. Ini tidak menunjuk pada portable devices yang bisa ditenteng orang ke sana kemari, tetapi pada orang yang otaknya mampu menyimpan aneka macam informasi yang sewaktu-waktu bisa diakses dengan mudahnya sehingga orang tak perlu lagi mencari buku kamus atau ensiklopedi untuk konsultasi.

Yesus mengklaim dirinya sebagai roti hidup, dibandingkan dengan manna yang dulu diperoleh nenek moyang orang Yahudi dari langit, dari Allah sendiri. Lha, orang Yahudi ya protes, wong jelas dia itu ya cuma tetangga sebelah, bagaimana mungkin bisa menyatakan diri datangnya dari Allah?! (Tapi emangnya mau dari mana lagi kalau bukan dari Allah ya? Dari debu!)

Keberatan orang Yahudi tentu saja terkait dengan jaminan yang mereka punya: hukum Taurat. Ini hukum yang diperoleh Musa dari Allah sendiri. Itulah yang menjamin keselamatan mereka. Klaim Yesus tentu saja mengusik keyakinan mereka. Bisa jamin apa Yesus ini? Apa dia juga bisa jadi wahyu Allah seperti hukum Taurat itu?

Bisa, kalau orang memakannya. Kata kerja makan biasanya langsung terasosiasikan dengan mulut mengunyah sesuatu yang berguna untuk kelangsungan metabolisme tubuh. Sebagian orang mengasosiasikan dengan pad Thai atau papaya salad Thai atau tom yam atau apa lagi dah; pokoknya memang makanan Thailand ini uenak. Tetapi kita tahu bahwa makan jelas maksudnya lebih luas daripada sekadar mengunyah aneka santapan lezat. Ini adalah juga, mungkin justru, proses pencernaannya sendiri yang tak kelihatan dalam tubuh.

Proses pencernaan itu yang, semestinya sih, terjadi dalam Ekaristi. Di sana umat beriman (Katolik) mendengar apa yang dikatakan Kitab Suci, apa yang disabdakan Yesus, mencecap-cecapnya, mengkonfrontasikannya dengan hidup mereka sendiri, dan mengingat lagi peristiwa Yesus yang walk the talk: kata-katanya jadi kenyataan yang ditanggungnya, dijalaninya, dihayatinya. Begitulah cara makan roti hidup. Begitu pula cara orang sekarang mengklaim bahwa ia punya relasi pribadi dengan Yesus, wong edan dari Nazaret itu.

Tuhan, semoga aku lebih mampu mendengar Sabda-Mu dan merealisasikannya dalam kenyataan hidupku. Amin.


HARI MINGGU BIASA XIX B/1
9 Agustus 2015

1Raj 19,4-8
Ef 4,30-5,2
Yoh 6,41-51

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s