Hari Gini Kristenisasi?

Beberapa hari lalu terdengar kabar kisruh yang alasannya lagi-lagi adalah agama (kristen). Sudah sejak lama saya bosan dengan topik agama dan kultur seperti ini, seperti halnya bosan dengan soal arabisasi yang dikamuflasekan atas nama agama tertentu. Apa toh yang dicari dalam hidup orang yang terus ribut seperti ini? Saya kira, orang yang berpikir dengan kaidah kewarasan akan bisa membedakan antara upaya mendalami iman (suatu relasi umat beriman dengan Allahnya) dan usaha ‘ngoyoworo’ proselitisme ala kelompok militan. Akan tetapi, tak sedikit orang yang common sense-nya direnggut oleh pihak ketiga yang akhirnya mengendalikan kuda supaya baik jalannya ontran-ontran.

Bisa ditengarai bahwa pelaku ontran-ontran umumnya justru adalah mereka yang tipis iman tapi tebal status (agama). Ini adalah sosok yang kurang pede sehingga ribut mengurusi iman dan agama lain. Bisa dibayangkan, mengurus diri sendiri gak becus, mau berlagak pula menata orang lain; jadilah ontran-ontran sepanjang segala abad. Kiranya ini ada dalam setiap agama (besar) karena dalil perkembangan iman tak tergantung pada agama yang dipeluk orang.

Teks Injil hari ini bisa disalahpahami orang berkenaan dengan kafir-mengafirkan: Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. (Mat 10,5-7) Ini adalah pesan Yesus kepada kedua belas muridnya sebelum ia mengutus mereka berdakwah. Sekarang ini ada sementara orang yang tidak berdarah Yahudi tetapi menganggap dirinya sebagai ‘domba-domba yang hilang dari umat Israel’. Menurut mereka, orang kristen memandang mereka sebagai ‘domba yang hilang’.

Saya rasa, kalau mau lebih persis, mereka semestinya lebih menganggap diri sebagai ‘orang Samaria’, yang waktu itu dikenal sebagai orang-orang yang tak mengenal Allah, alias kafir. Lha, kalau merasa diri mengenal Allah, ya lebih baik golongkan diri pada ‘bangsa lain’, tetapi tak perlu ge er jadi umat Israel. Saya pun, seorang pendosa Katolik, tak pernah merasa diri sebagai orang Israel yang hilang. Saya senasib dengan saudara-saudari yang Islam nusantara: lahir dan hidup di nusantara. Dengan demikian, pesan Yesus kepada para muridnya itu tak bisa ditafsirkan sewenang-wenang sebagai landasan proselitisme. Sebaliknya, Yesus malah melarang mereka pergi kepada bangsa lain!

Artinya, concern Yesus bukanlah proselitisme, bukan soal agama. Ia mengajak setiap orang, apapun agamanya, sungguh-sungguh bertobat, kembali merenda relasi yang rusak dengan Allah. Dalam arti itulah kristenisasi, katolikisasi, islamisasi jadi relevan untuk setiap umat beriman. Saya rasa, Yesus tidak doyan romanisasi, arabisasi, jawanisasi, dan semacamnya. Setiap orang mesti mencari jalan, juga dengan kulturnya sendiri, untuk kembali kepada Allah.

Ya Tuhan, bantulah aku untuk menemukan jalan kembali kepada-Mu tanpa merusak jalan yang bisa dipakai sesama. Amin.


HARI RABU BIASA XIV B/1
8 Juli 2015

Kej 41,55-57;42,5-7a.17-24a
Mat 10,1-7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s