Bencana & Efek Jera?

Tak sulit mendeteksi apakah seseorang menjadi budak dosanya: lihat saja bagaimana ia menghakimi orang lain. Hati yang tercemar dosa memandang apa saja di luar dirinya sebagai dosa: yang baik dianggap tidak baik, yang murah hati dianggap egois, yang benar dinyatakan sesat, dan sebagainya. Masih ingat bagaimana sebagian orang berkomentar terhadap peristiwa tsunami atau gempa bumi? Ironisnya, orang-orang yang penghayatan imannya dangkal atau munafiklah yang bersuara lantang bahwa tsunami dan gempa bumi itu adalah hukuman akibat dosa para korban! Bencana alam adalah peringatan dari Allah sendiri supaya orang bertobat. [Hmm… Allah itu rupanya dari dulu gak move on jadi dewasa juga ya, main ancam mengancam dan bahkan bencana alam dipakai sebagai hukuman demi efek jera!]

Paradigma seperti itulah yang dipakai kaum Farisi terhadap orang-orang sakit, kerasukan roh jahat, dan semacamnya. Alih-alih merancang suatu jaminan sosial, orang Farisi malah menegaskan bahwa orang sakit dan pendosa itu pantas disingkirkan. Bisa jadi, agama resmi bukannya membantu orang untuk bertemu dengan Allah tetapi malah mengajarkan bahwa penyakit adalah hukuman dari Allah atas dosa manusia. Ini meningkat pada mereka sentimen eksklusi dan kecaman. Saking tercemarnya hati mereka itu, bahkan ketika orang banyak kagum atas kuasa Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan setan, mereka menilai Yesus memakai kuasa bosnya para setan! Oalah, munafik, munafik; demi meredam pengaruh Yesus, kaum Farisi memakai legitimasi teologis yang sesat. Itulah indikasi hati tercemar, yang menjadikan orang sebagai budak dosa.

Loh, apa kriterianya menganggap penilaian orang Farisi itu sesat? Lihat saja bagaimana Yesus memandang orang lain: Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Di antara orang banyak itu juga ada orang-orang sakit, bahkan mereka yang dinajiskan oleh hukum Yahudi. Akan tetapi, Yesus tidak melihat mereka sebagai pendosa (meskipun mereka memang pendosa) yang mesti dijauhi, melainkan sebagai pendosa yang membutuhkan belas kasih, bukan malah menginjak-injak mereka dengan aneka momok mengenai Allah.

Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk merenda relasi yang rusak Engkau dan  umat-Mu dengan berbelas kasih terhadap sesama pendosa. Amin.


HARI SELASA BIASA XIV B/1
7 Juli 2015

Kej 32,22-32
Mat 9,32-38

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s