Agama kok Eksklusif

Kisah hari ini sudah dibacakan pada hari Minggu XIII lalu (dari Injil Markus): dua penyembuhan yang terjadi karena sentuhan, perjumpaan pribadi dengan Kristus. Kisahnya tampak sederhana, tetapi implikasi untuk iman tidak sesederhana itu karena terkait dengan penghayatan publik yang sudah berlangsung sekian lama. Dalam tradisi Yahudi saat itu, orang yang menyentuh darah atau mayat dianggap najis dan orang yang kontak fisik dengan orang najis itu juga ikut jadi najong. Untuk kembali bersih dan boleh berpartisipasi lagi dalam hidup komunitas, mesti diadakan ritual penyucian yang diatur dalam hukum.

Yesus membuka jalan menuju Allah yang tak bergantung pada jampi-jampi atau ritual pembersihan dengan pengesahan dari para imam. Paradigma yang berlaku bagi orang-orang najis pada saat itu bunyinya kurang lebih,”Kalau aku menyentuh pakaiannya, aku tetap akan najis.” Tentu saja, karena pendarahan tak mungkin sembuh hanya karena menyentuh pakaian orang, wong dengan aneka terapi dan upaya penyembuhan oleh dokter saja tak kunjung sembuh!

Akan tetapi, perempuan itu punya pemikiran lain: kalau saja aku bisa menyentuh jumbai jubahnya, aku akan sembuh. Ini adalah tanda keberaniannya, tanda bahwa ia tak begitu saja setuju pada semua yang diajarkan otoritas religius saat itu. Ajaran kaum farisi maupun ahli Taurat tak bisa mengontrol pemikiran orang. Syukurlah, perempuan itu mendekati Yesus dari belakang, menyentuh jumbai jubahnya, dan sembuh!

Dari mana datangnya harapan perempuan najis itu? Dari sosok pribadi Yesus, bukan pribadi lainnya. Perempuan itu tidak berpikir,”Asal kujamah jubah orang, aku akan sembuh.” Jadi, bukan sembarang jubah, melainkan jubah yang dikenakan oleh pribadi tertentu. Artinya, bukan jubah yang penting, melainkan pribadi yang mengenakan jubah itu (jangan lupa, pakaian adalah juga perpanjangan identitas seseorang; handuk kecil di leher dulu identik dengan tukang becak/bajaj). Pribadi macam apa yang mengenakan jubah yang disentuh perempuan najis itu?

Dalam teks hari ini hanya ditunjukkan satu kalimat,”Teguhkanlah hatimu, hai anakku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Kalimat singkat ini memuat tiga poin penting: (1) dengan sapaan ‘anak’, Yesus menyambut perempuan itu dalam komunitas/keluarga baru. Tak ada lagi eksklusi atau pengucilan; (2) kesembuhan de facto terjadi tanpa aneka syarat yang disodorkan oleh otoritas religius; (3) Yesus mengamini bahwa tanpa iman perempuan itu, tak terjadi kesembuhan. Penyembuhan bukan produk ritual magis tertentu, melainkan dari tindakan iman tertentu, iman yang mendekatkan orang pada Allah.

Tidak berhenti di situ, kisah Injil ini menunjukkan bahwa iman tertentu itu juga sampai pada kenyataan bahwa ternyata Yesus tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga membangkitkan orang mati. Berarti, tindakan iman seseorang dari waktu ke waktu pun mestilah sampai pada pokok kepercayaan bahwa Yesus memiliki kuasa yang mengatasi kematian. Pun jika orang sakit tak sembuh dan akhirnya mati, iman kepada Kristus akan menyelamatkannya.

Iman kepada Kristus itu dalam hidup orang akan terwujud dari tindakan yang memenuhi tiga poin penting tadi: orang tidak mengucilkan diri atau orang lain atas dasar hukum, tetapi senantiasa mencari jalan untuk menerangi hukum dengan relasi pribadi dengan Allah sendiri.

Ya Allah, semoga imanku lebih kuat daripada ketakutanku terhadap hukum manusia. Amin.


HARI SENIN BIASA XIV B/1
Pesta Fakultatif S. Maria Goretti
6 Juli 2015

Kej 28,10-22a
Mat 9,18-26

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s