Life-Giving Touch

Konon ada seorang profesor yang membuka kuliah berjudul “cinta”, dan seluruh koleganya menertawakan ide sablengnya itu. Tentu saja, mosok cinta dijadikan kajian akademis atau sekurang-kurangnya diberi porsi dalam dinamika akademis di kampus? Itu kan cuma konsumsi anak-anak baru gede! [Lha tapi kok sekarang anak SD saja bisa bercinta-cintaan ya?] Profesor itu bergeming, dan ternyata lama-kelamaan mata kuliah yang diberikannya justru menjadi mata kuliah favorit bagi banyak mahasiswa di kampusnya.

Yang dipertaruhkan Yesus tentu lebih besar perkaranya daripada cinta yang diwacanakan dalam dunia akademis oleh profesor Leo Buscaglia itu. Jika proyeknya gagal, profesor itu paling-paling cuma menanggung malu karena tetap ngotot dengan usahanya meskipun profesor-profesor lain mencibir dan menertawakannya. Sedangkan Yesus ini, bukan cuma malu yang ditanggungnya, melainkan iman yang diwartakannya juga tidak lagi credible. Memang sableng juga sih, wong orang mati kok dibilangnya cuma tidur.

Akan tetapi, narasi Injil yang dipakai Gereja Katolik hari ini menunjukkan makna yang lebih dari soal sableng nan memalukan itu. Ada dua kisah penyembuhan yang menunjukkan gerak positif terhadap kekuatan Yesus terhadap kematian. Yesus diminta kepala rumah ibadat untuk menyembuhkan anak perempuannya yang berumur 12 tahun yang sedang sekarat. Dalam perjalanan menuju rumah Yairus itu, terjadi kesembuhan seorang perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun. Baik Yairus maupun perempuan sakit pendarahan itu tersungkur di depan kaki Yesus: pengakuan bahwa mereka tak punya kuasa untuk melawan kekuatan yang menggerus kehidupan mereka!

Angka dua belas memang menunjukkan ketanakan sesuatu: sudah segala upaya dilakukan, sudah lengkaplah penderitaan yang ditanggung; pokoknya semua-muanya yang bisa dihitung. Yairus mengerti bahwa anak perempuannya sudah sekarat. Pembaca juga tahu bahwa bisa jadi karena Yesus berhenti dulu memberi peneguhan kesembuhan pada perempuan sakit pendarahan itu, anak Yairus sudah mati; dan memang benarlah, anak Yairus itu mati. Artinya, Yesus berhadapan dengan kekuatan maut yang sudah diantisipasi oleh perempuan yang sakit pendarahan itu (kehilangan darah, kehilangan sumber hidup).

Yesus tidak tunduk pada kekuatan maut. Sentuhannya, atau sentuhan kepada jubahnya (perpanjangan pribadinya), ternyata mengembalikan hidup. Itu terjadi karena iman yang melibatkan orang dalam pergumulan hidupnya. Itulah juga yang dipesankan Yesus kepada perempuan sakit pendarahan itu, tetapi juga orang-orang di lingkungan keluarga Yairus: percaya sajalah, imanmu menyelamatkan engkau. Iman macam ini membangun kultur kehidupan yang memang dikehendaki Allah (dalam bacaan pertama, maut dinyatakan sebagai obsesi setan). Wujudnya adalah seperti yang diidealkan Paulus dalam bacaan kedua: semua hidup dalam keseimbangan. Setiap orang bekerja keras dan orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan, tetapi yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan.

Ya Tuhan, aku mohon rahmat supaya setiap sentuhanku dengan tutur kata dan tindakan menjadi wujud dari iman bahwa Engkau sungguh sumber kehidupan bahkan di saat kultur kematian begitu merajalela.


HARI MINGGU BIASA XIII B/1
28 Juni 2015

Keb 1,13-15;2,23-24
2Kor 8,7.9.13-15
Mrk 5,21-43

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s