No Faith, No Miracle

Iman tidak muncul dari kebijaksanaan (pengetahuan) atau pun mukjizat. Orang pandai yang menguasai aneka kata bijak dari Timur sampai Barat atau orang yang mengalami mukjizat gak gitu aja beriman. Kebijaksanaan pengetahuan manusiawi malah bisa membuat orang arogan atau menempatkan Tuhan sebagai tukang tambal atas hal yang tidak/belum diketahui manusia. Mukjizat juga malah bisa membuat mata orang blawur dan mereduksi Tuhan sebagai idol, bumbu pokok candu masyarakat yang disebut agama. Kebalikannyalah yang berlaku: iman memunculkan kebijaksanaan dan mukjizat (berkali-kali Yesus mengatakan imanlah yang menyembuhkan orang yang mengalami mukjizat; tetapi setelah orang sembuh belum tentu ia setia pada imannya dengan mengikuti Kristus, bdk. Luk 17,11-19).

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang dari Kapernaum kembali ke tempat asalnya di Nazaret. Kita ingat selama tiga puluhan tahun Yesus dibesarkan di Nazaret sebelum ia tampil secara publik. Setelah masa puasanya, ia tidak kembali ke Nazaret, melainkan ke kota tepi danau, Kapernaum. Maklum, untuk proyek pembaharuan, orang muda gak bisa terus menerus ngendon di desanya yang masyarakatnya cenderung tradisional dan tertutup. Dibutuhkan iklim keterbukaan pada hal baru dan Yesus tahu bahwa untuk itu ia mesti mencari tempat lain. Tentu saja, setelah sekian lama ia tampil secara publik di Kapernaum dan sekitarnya, berita mengenai sepak terjangnya juga sampai ke Nazaret: mukjizat dan pertentangannya dengan tokoh-tokoh agama.

Masih ingat, ibu dan kerabat Yesus ini datang ke tempat kerja Yesus hendak menjemputnya karena mereka mengira Yesus ini sudah sableng (bdk. Mrk 3,31-35)? Bisa dimaklumi, orang-orang sederhana di desa tentu tidak menginginkan anggota keluarganya berbuat macam-macam sehingga menimbulkan pertentangan dengan tokoh-tokoh cendekiawan dan alim ulama! Orang tua mana yang tidak ketar-ketir di desanya ketika tahu bahwa anaknya bikin geger di kota? Ketika orang memberitahu Yesus bahwa keluarganya datang untuk menjemputnya, Yesus malah bilang,”Yang disebut ibu ayah dan saudaraku itu ya yang melaksanakan kehendak Allah.” Dasar wong sableng!

Akhirnya memang Yesus kembali ke Nazaret. Dua hari jalan kaki melalui medan yang sulit dan berbahaya (30 km). Aneh aja kalau Yesus menempuh perjalanan sejauh itu tanpa tujuan. Apakah ia pergi ke Nazaret sekadar memenuhi tata krama untuk mengunjungi keluarga yang telah membesarkannya? Kunjungan keluarga, begitu? Tidak! Ia melanjutkan kesablengannya. Kan sudah dikatakan bahwa sanak saudaranya ialah mereka yang mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah. Nah, murid-muridnya itu adalah salah satu kelompok orang yang memenuhi kriteria itu. Dengan kata lain, itulah keluarga barunya. Yesus kembali ke Nazaret bersama kerabat yang menjemputnya, tetapi juga bersama murid-murid yang telah meninggalkan segala-galanya untuk mengikuti Yesus. Ia hendak mengintroduksi dan melibatkan kerabat lamanya pada kriteria keluarga baru, yaitu proyek keselamatan yang merangkul semua bangsa.

Apa reaksi orang-orang desanya? Mereka mempertanyakan dari mana datangnya kebijaksanaan dan perbuatan hebat Yesus karena mereka tahu Yesus ini hanyalah tukang kayu. Nadanya memang terkesan menghina, tetapi jelas pertanyaan keliru. Tapi ya maaf, ndeso sih, wawasannya belum berkembang sehingga cara bertanyanya juga keliru. Semestinya mereka bertanya pada diri sendiri apakah yang disampaikan Yesus, betapapun menyinggung atau menyakitkan sehingga mereka terpukau itu, memang klop adanya dengan kemanusiaan; apakah ajaran Yesus itu menuntun orang pada gambaran Allah yang tepat. Orang mesti bertanya apakah suatu ajaran itu semakin memanusiakan orang atau tidak, semakin menghadirkan Allah yang maharahim atau tidak.

Sayangnya, masyarakat sudah terbiasa memakai tolok ukur status: apa kata hukum, apa kata pastor, apa kata uskup, apa kata kardinal, paus, dan sebagainya sehingga kata tukang kayu itu level kebenarannya ada di laci paling bawah! Dalam masyarakat dengan paradigma seperti itu, Yesus tak bisa mengadakan mukjizat macam-macam. Begitulah, mukjizat dan kebijaksanaan tidak otomatis membuat orang beriman. Sebaliknya, imanlah yang memungkinkan mukjizat dan kebijaksanaan orang berkembang. Iman yang begitu itu gak mungkin muncul dalam nuansa arogan. Paulus mengerti bahwa dalam dirinya ada kerapuhan yang membuatnya tak bisa takabur memegahkan diri. Sebaliknya, dalam kerapuhan itu ia bersyukur bisa semakin menampakkan kekuatan Allah sendiri.

Ya Allah, berilah aku rahmat kerendahan hati supaya dapat memilah-milah aneka hal seturut cinta-Mu sendiri. Amin.


HARI MINGGU BIASA XIV B/1
5 Juli 2015

Yeh 2,2-5
2Kor 12,7-10
Mrk 6,1-6

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s