Ngapain Puasa Segala?

Orang yang gak pede biasanya cenderung membanding-bandingkan diri dengan orang lain atau sensitif terhadap aneka perbandingan. Demikian pula orang yang imannya tanggung akan cenderung membanding-bandingkan praktik imannya dengan praktik iman orang lain; bukan demi studi banding, melainkan justru karena ia tidak yakin dengan apa yang dijalankannya sendiri. Perbedaan, pelanggaran kecil tradisi membuatnya jadi terancam.

Murid-murid Yohanes Pembaptis bersama banyak umat Yahudi lainnya sudah terbiasa dengan praktik puasa, termasuk puasa Senin-Kamis. Puasa sendiri adalah bagian dari tradisi banyak agama. Rupanya murid-murid Yesus tidak mengikuti tradisi itu, padahal Yesus sendiri malah menjalankan puasa selama 40 hari. Bertanyalah murid-murid Yohanes itu kepada Yesus, barangkali juga karena heran mengapa Yesus sendiri berpuasa, tetapi membiarkan murid-muridnya tak berpuasa. Ini pasti bukan sekadar pesan moral supaya orang keras terhadap diri sendiri tetapi lembut terhadap orang lain, bukan?

Menariknya, Yesus menanggapi pertanyaan itu dengan perbandingan, dengan analogi dalam rumus pertanyaan: lucu gak orang diundang pesta mantenan dan saat mempelainya tiba tamu undangan itu malah berduka cita (dan berpuasa)? Kalau mempelai itu tak ada lagi bersama mereka, barulah mereka puasa, gak ada pesta lagi. Ini merujuk pada kematian Yesus sendiri. Artinya, selama Yesus berada bersama para muridnya, mereka benar-benar mengalami suka cita yang tak perlu dibumbui dengan praktik puasa. Puasa tak bisa diperlakukan semata sebagai kewajiban.

Pesan itu dilengkapi dengan analogi lain karena Yesus tentu mengerti bahwa apa yang dilakukannya itu menyeleweng dari praktik keagamaan saat itu. Analoginya sangat jelas untuk masyarakat yang terbiasa dengan pembuatan dan penyimpanan anggur dengan kantong kulit. Saya cuma mengira-ira: kantong anggur akan melar selama proses fermentasi. Lha mestinya kan ada batas kemelaran kantong sehingga kalau kantong ini dipakai lagi untuk anggur baru, bisa-bisa malah meledak karena tak bisa melar lagi. Jadi, anggur lama biarlah di kantong lama dan anggur baru mesti ditaruh di kantong baru.

Yesus jelas tidak menentang praktik puasa, sebagaimana ia juga tidak menentang agama Yahudi. Ia memberi wadah atau kantong baru juga untuk praktik puasa. Puasa menjadi sarana bagi murid-muridnya untuk mengakses Yesus setelah kematiannya kelak. Puasa bukan lagi soal kewajiban agama, melainkan soal mendisposisikan diri untuk merealisasikan Sabda Allah itu, yang pada umumnya menuntut kepentingan egoistik untuk menyingkir. 

Jika bacaan pertama dipertimbangkan, mungkin bisa dipahami juga kantong baru sebagai mentalitas baru. Allah yang menuntun Israel dalam sejarah berkali-kali mengentaskan mereka dari kejahatan, tetapi rupanya perseteruan antara Esau dan Yakub itu bahkan sampai sekarang terus berlanjut di wilayah Timur Tengah (dan mungkin cipratannya sampai ke Indonesia juga untuk upaya arabisasi). Yesus menyodorkan belas kasih dan pengampunan yang bisa memutus perseteruan itu. Akan tetapi, melepaskan kantong lama rupanya bukan perkara mudah. Ini toh terjadi juga dalam sejarah Gereja Katolik. Konsili Vatikan II oleh sebagian orang, mungkin lebih banyak, diterima dengan paradigma pra-Konsili Vatikan II; jadi mandul deh (kalau bukan mundur).

Ya Roh Kudus, genggamlah aku dalam terang-Mu supaya aku tidak gagap menanggapi perubahan dunia dan tetap setia pada bimbingan-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XIII B/1
4 Juli 2015

Kej 27,1-5.15-29
Mat 9,14-17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s