Perbesar Tempurungnya!

Rutinitas kerap kali tidak disukai orang karena membosankan dan apa yang membosankan itu tidaklah menyenangkan. Orang yang bertolok ukur tindakan like/dislike cenderung menghindari rutinitas. Lebih persisnya, orang yang berkriteria suka/tak suka itu menghindari rutinitas yang tidak menyenangkan. Rutinitas yang menyenangkan, yang membuat nyaman cenderung mereka pertahankan. Ini adalah sesuatu yang lumrah secara manusiawi.

Jika kita beranjak dari kriteria like/dislike, kita mengerti bahwa entah menyenangkan atau tidak, rutinitas memuat satu bahaya: membuat orang tak berkehendak untuk berubah! Jika sudah sampai tahap ini, kita akan mencari argumentasi atau memanfaatkan kata-kata bijak orang untuk mempertahankan rutinitas itu. Apa saja yang mengusik rutinitas itu di-bully, bisa jadi bahan pertentangan dan pertengkaran.

Dalam konteks seperti itulah bacaan Injil hari ini dituliskan. Di sana sini dikatakan soal Yesus berbicara mengenai perdamaian (Mrk 9:50, Luk 24:36, Mat 5:9, Yoh 20:21 misalnya), tetapi di sini malah dikesankan Yesus ala Ahok itu omong,”Jangan lu kira gue bikin adem ayem!” Ini gak berarti Yesus menyetujui perang dan perpecahan. Sama sekali tidak! Masih ingat, Yesus meminta Petrus untuk menyarungkan pedangnya? Ia tak ingin ada pertumpahan darah. Ia justru menginginkan penyatuan semua kebenaran (Yoh 17,21). Itulah yang malah menimbulkan perseteruan di sana-sini.

Pada saat Injil ditulis, dakwah mengenai Yesus sebagai Mesias menjadi alasan perpecahan di antara orang-orang Yahudi. Dalam satu keluarga atau komunitas, ada yang mendukung dan ada yang menentang. Dalam arti ini Kabar Baik benar-benar jadi sumber perpecahan, sebuah “tanda perbantahan” (Luk 2,34) atau, dalam kata-kata Yesus: membawa pedang. Persoalan tidak terletak pada Kabar Baik, tetapi pada kriteria yang dipakai orang yang tidak dilandasi oleh cinta (atau kalau dilandasi cinta ya cintanya sudah dikorupsi pada soal parsial, like-dislike). Tanpa cinta itu, orang tidak bisa menerima realitas secara utuh: membuang yang tidak disukai, menyingkirkan yang dibenci, membuat kelompok sendiri, dan Kabar Baik menjadi eksklusif.

Loh, Romo, itu malah di Injil lain dibilang barangsiapa tidak membenci ayah ibunya tidak bisa jadi murid Yesus (Luk 14,26)? Berarti gapapa dong membenci bahkan sanak keluarga sendiri? Ya papalah! Wong jelas ada bunyi perintah supaya orang mencintai dan menghormati papa mama kok (Mat 19,19; Mrk 7,10-12). Dasar wong edan, ora konsisten! Ya sabar dulu jangan main hakim sendiri…
Kriteria dasar Yesus: nilai tertinggi ialah Kabar Baik dari Allah, melampaui hirarki ekonomi yang diteliti para ahli. Itu jelas. Lha, situasi sosio-ekonomi pada zaman Yesus itu sedemikian rupa sehingga institusi keluarga jadi begitu tertutup. Semua mesti survive dengan cara mereka sendiri-sendiri; orang gak mikir tanggung jawab sosial kemasyarakatan. Bodo’ amat, yang penting gua sukses (di daerah mana  ya itu?), gak usah idealis dengan preferensi kaum tersingkir!

Lha, situasi itu menghasilkan distorsi dan hidup semakin susah; perintah ‘hormatilah papa mama’ terbatas pada keluarga inti dan tak pernah meluas menjadi keluarga Allah yang seluas jagad raya; ini juga menghambat manifestasi Injil secara penuh (karena jika Allah memang adalah Bapa/Ibu, tentu semua orang adalah saudara, entah beriman atau tidak!).

Pada zaman ini pun hal yang sama terjadi. Banyak kali, benih pembaharuan pewartaan Injil justru menjadi titik pertentangan dan perpecahan. Orang yang selama bertahun-tahun telah hidup dalam rutinitas hidup nyaman Kristen mereka, gak mau membiarkan ide update (aggiornamento) Vatikan II merepotkan mereka. Mereka menggunakan semua kecerdasan argumentasi dan persuasi, membela pendapat, mengutuk perubahan yang mengganggu praktik yang mereka pikir sebagai ungkapan dan wujud iman yang benar.
Loh, apa Romo tidak sedang mem-bully mereka yang konservatif dan membela kelompok progresif yang ngawur?
Enggak juga, karena poinnya bukan pertentangan konservatif-progresif. Ini soal orang bergerak dari tempurung kecil ke tempurung yang semakin besar, bukan dengan tolok ukur like-dislike, melainkan Kabar Baik yang mesti merangkul semua tanpa kecuali.

Tuhan, bantulah aku untuk semakin mengakui bahwa Engkau adalah Bapa/Ibu bagi semua orang sehingga aku mampu memperlakukan semua juga sebagai saudara. Amin.


HARI SENIN BIASA XV B/1

Kel 1,8-14.22
Mat 10,34-11,1

Posting Tahun Lalu: Agama Konyol

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s