Untuk Apa Agama

Di sekolah saya dulu ada guru yang sabarnya setengah mati, tetapi semua muridnya sangat takut padanya. Saya sih tidak takut (wong saya bukan muridnya; lagipula saya tahu guru ini sabarnya setengah mati). Mosok takut sama orang sabar? Yang membuat murid-murid takut adalah rumor bahwa guru ini pernah marah sedemikian rupa sampai-sampai mereka beranggapan bahwa guru ini seperti balon: kalau ditiup terus lama-lama akan meletus. Jarang sekali marah, sekalinya marah, preman sekolahan pun lewat. Repotnya, mereka tak tahu kapan guru yang sabar setengah mati itu bakal marah.

Yesus bukan hanya sabar setengah mati, melainkan sabar sampai mati. Tak pernah muncul dalam kontemplasi saya bahwa Yesus memaki-maki para tentara yang mem-bully dia, meludahinya, menendangnya, dan sebagainya. Teks yang disodorkan hari ini bicara mengenai kritik Yesus yang bisa mengundang simpati pembacanya. Wajar, orang ‘gemes’ terhadap orang ndableg: sudah diberitahu bahayanya melawan arus kendaraan, masih saja nekat; sudah ngerti baca tulis dan tahu bahwa ketik sms sambil mengendarai motor itu berisiko kematian kok ya tetap gak mau sekadar berhenti beberapa detik atau menit untuk cek sms (ya’ ya’o sudah tiada hari esok tanpa sms).

Yesus tidak cuma ‘gemes’. Ia mengecam, mengkritik ‘kota-kota yang tidak bertobat’ bahkan meskipun di sana Yesus sudah membuat aneka macam mukjizat. (Gue bilang juga ape: mukjizat gak otomatis bikin orang beriman, apalagi bertobat). Yohanes Pembaptis boleh jadi gagal paham mengenai siapa Yesus itu karena pengalamannya kurang update: ia tak tahu apa yang dibuat Yesus (karena sudah dipenjara). Orang banyak gagal fokus pada pewartaan Yesus karena mereka punya kepentingan sendiri. Orang pandai dan bijak, yang mengandalkan ilmu mereka sendiri, juga tak bisa mengerti pewartaan Yesus. Orang Farisi, yang sangat taat pada hukum, mengkritik Yesus, bahkan kelak bertekad membunuhnya. Warga kota besar di tepian danau yang mendengar pewartaannya dan melihat sendiri mukjizat yang dilakukannya, tidak mau membuka diri pada warta pertobatan.

Kecaman Yesus ini secara tidak langsung jadi peringatan ala warning bagi para muridnya: mereka tak bisa mengharapkan upah atau bahkan pujian dalam menjalankan misi. Tak ada jaminan apa-apa selain yang disampaikan Paulus: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil (1Kor 9,18 ITB). Wong Yesus saja disalahpahami, begitu pula pengikutnya juga bisa disalahpahami bahkan setelah wafat dan kebangkitan Yesus. Hanya kaum kecil dan sederhana yang rupanya tersedia untuk memahami dan menerima Kabar Baik (Mat 11,25-30); mereka adalah orang yang mengikuti dia (Mat 12,15-16) dan melihat dalam dirinya kualitas hamba yang dinubuatkan oleh Yesaya (Mat 12,17-21).

Lha sumonggo, tiap orang bebas memilih memberikan tanggapan: mau seperti Yohanes Pemandi (yang gagal memahami identitas Yesus karena terpenjara, tak tahu tindakan-tindakan Yesus), orang banyak, orang Farisi dan kroni-kroninya, atau mau seperti kaum kecil dan sederhana tadi. Lagi-lagi ini bukan soal agama yang dipeluk orang, melainkan soal keterbukaan pada tempurung yang lebih besar lagi dari agama, yang dalam tradisi Kitab Suci Katolik disebut Kerajaan Allah. Tanpa keterbukaan itu, orang jadi semakin rigid dalam keyakinan, tradisi dan adat kebiasaan. Tak ada perubahan ke arah yang lebih baik.

Banyak orang otomatis memeluk agama orang tuanya. Orang Katolik yang dibaptis sejak bayi mungkin mengalami paradoks seperti disodorkan Yesus: karena keyakinannya begitu solid, merasa tak perlu pertobatan (karena paham mengenai pertobatannya juga masih jadul). Bagi orang-orang tertentu, agama tidak jadi sumber perubahan dan pertobatan, melainkan jadi tempat aman untuk money laundry dan intrik-intrik politik.

Tuhan, semoga hatiku tak mengeras. Amin.


HARI SELASA BIASA XV B/1

Kel 2,1-15a
Mat 11,20-24

Posting Tahun Lalu: Kolektivitas Non-Partai

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s