Sejarah Allah Bukan Sejarah Agama

Ada orang-orang yang sedemikian menuntut fasilitas tertentu untuk bisa memulai suatu pekerjaan. Kalau tak ada, mereka tidak mau memulai pekerjaan. Sebagian tuntutan itu wajar, sebagian lagi superfluous. Yang lebay itu biasanya merepresentasikan kurangnya iman. Wah…lha kok enteng banget ngambil kesimpulannya, Romo?

Hari ini Gereja Katolik memperingati Santo Bonaventura, yang mengalami mukjizat kesembuhan karena doa melalui Santo Fransiskus Asisi dan kemudian mengembangkan kerohanian atas dasar hidup Santo Fransiskus itu juga. Ia melontarkan suatu refleksi yang barangkali berguna juga bagi hidup kita di zaman modern ini. Salah satu refleksinya berkenaan dengan teologi sejarah ialah: opera Christi non deficiunt, sed proficiunt. Karya-karya Kristus itu tidak mundur ke belakang, tetapi maju ke depan. Jelas, kan?

Bagi Santo Bonaventura, sejarah semesta ini sudah merupakan suatu dinamika tritunggal: Allah tetaplah satu, dan dengan demikian sejarah pun tunggal, tetapi bergerak karena Sabda-Nya (yang adalah Kristus) yang senantiasa menjumpai dunia dalam Roh Kudus (yang adalah Roh Allah dan Roh Kristus juga). Bingung, kan? (Siapa suruh baca?!)
Dalam refleksi Santo Bonaventura, Kristus bukan lagi akhir sejarah, melainkan pusat sejarah dan karena itulah sejarah bergerak maju. Tanpa Kristus, sejarah mengalami setback (tanpa Dia, blog ini terpikir pun tidak).

Refleksi macam ini bolehlah kita pahami dalam kerangka paham yang sudah kita lihat kemarin-kemarin: bahwa tujuan hidup kita adalah suatu kata kerja, suatu lifestyle yang senantiasa berorientasi maju, berkembang. Sekali lagi ini bukan soal pertentangan antara kaum konservatif dan progresif. Ini adalah soal konsekuensi relasi manusia dan Penciptanya. Relasi ini yang memungkinkan perkembangan sejarah bergerak maju.

Tidak melesetlah bahwa bacaan Injil hari ini pun bicara mengenai kondisi yang memungkinkan terjadinya relasi itu: orang tak bisa arogan di hadapan Allah. Allah tidak memilih orang cerdik pandai (yang pada masa hidup Yesus identik dengan para ahli Taurat dan sekongkolan mereka) untuk melakukan pekerjaan-Nya, tetapi memilih orang-orang yang mau mencintai sampai akhir, yang karena rendah hati bisa menemukan diri dalam rengkuhan Allah! Setiap kali orang seperti ini mengatakan ya kepada Tuhan, kehidupannya tumbuh, tetapi setiap kali ia mengatakan tidak, padamlah hidupnya.

Itu sejalan dengan pengalaman Musa yang diminta Allah untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Sewaktu ia melihat semak duri yang menyala tanpa terbakar, muncul perintah supaya ia melepaskan kasut: Musa mesti merendahkan dirinya, mengosongkan dirinya. Tapi apa lacur, Musa juga plonga-plongo tak mengerti maksud panggilan itu. Ketika ia mendengar pengutusan untuk memimpin bangsa Israel, ia spontan berdalih,”Lha aku ini siapa, gak punya modal dan fasilitas apa-apa, pendidikan nol, keterampilan leadership juga tak terlatih.” Itu sama sekali bukan ungkapan kerendahan hati di hadapan Allah, melainkan justru kerendahan diri (yang adalah kutub lain arogansi): untuk bisa melakukan itu, aku harus punya kemampuan hebat!

Musa oh Musa, ia melihat pengutusan itu sebagai karya pribadinya. Ia seolah lupa bahwa Allah menyertainya, dan Dialah si empunya proyek. Ia tidak mengerti bahwa ia sedang ada dalam tahap kecil sejarah Allah, belum paham bahwa fokusnya ialah opera Christi. Memang tidak mudah, dalam hidup material ini, orang berfokus pada opera Christi lebih daripada proyek monumental pribadi. Dalam suasana itu, orang bisa terlalu menuntut fasilitas atau kondisi-kondisi yang berlebihan sehingga malah tidak maju-maju.

Tuhan, semoga aku semakin mengenali daya kreatif penciptaan-Mu. Amin.


HARI RABU BIASA XV B/1
15 Juli 2015
Pesta Wajib S. Bonaventura

Kel 3,1-6.9-12
Mat 11,25-27

Posting Tahun Lalu: Kaum Bijak-Pandai Celaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s