Allah Beneran Gak Eksklusif

Ada kalanya dalam dinamika hidup orang beragama, mereka jadi begitu arogan dalam klaim kebenaran: merekalah yang empunya Allah dan Allah berpihak kepada mereka, orang yang takwa dan cinta kepada Allah. Maklum, di Kitab Suci juga dituliskan begitu sih. Problemnya apa? Bukankah memang Allah menyayangi mereka? Tentu saja. Akan tetapi, Yesus si gila dari Nazaret itu menghidupi sesuatu yang tampaknya lebih komplet: Allah itu menjadi Bapa(/Ibu) bagi semua orang, baik yang percaya kepada-Nya maupun yang tidak mengenal-Nya.

Bacaan pertama memuat skenario rencana penyelamatan Allah terhadap bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir. Allah tahu bahwa Firaun begitu ngotot untuk tidak membiarkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Allah bahkan mengeraskan hati Firaun. Jika dibaca dari sudut pandang simpati pembaca, kita yang dalam arti tertentu ‘memihak’ bangsa Israel bisa jadi bereaksi terhadap Firaun cs dengan benak,”Bebal banget sih, biar tau rasa, Allah lebih kuat dari dewa-dewi mereka! Dasar kafir!” Allah seolah-olah berperang untuk umat-Nya melawan umat lain untuk menunjukkan identitas Diri-Nya.

Capeklah orang beragama yang menyimpan ideologi seperti itu karena terus menerus akan bertentangan dengan kenyataan: tak ada satu agama pun di bumi ini yang bisa memiliki Allah secara eksklusif. Oleh karena itu, tak seorang pun yang merasa diri beriman bisa mengklaim bahwa orang lain yang tidak beriman seperti dia layak dimusuhi, bahkan darahnya dihalalkan! Aneka tulah yang menyerang bangsa Mesir tidak bisa dilihat dalam kerangka Allah membenarkan bangsa Israel (yang sebetulnya juga tak lebih baik dari bangsa Mesir; malah dalam arti tertentu mereka lebih buruk: mengkhianati perjanjian dengan Allah. Dibohongi orang yang tak dikenal tentu tak lebih menjengkelkan daripada dikhianati orang dekat, bukan?)

Tulah yang mengenai bangsa Mesir merupakan medium perwahyuan Allah juga bagi bangsa Israel. Bangsa Mesir tidak bisa menangkap makna tulah itu karena basic attitude mereka adalah perang terhadap Israel dan Allah-Nya. Bangsa Israel pun bisa salah tangkap jika tulah itu mereka pahami sebagai bukti bahwa mereka superior daripada bangsa Mesir. Agama bangsa Mesir maupun agama bangsa Israel sama-sama diundang untuk melihat karya Allah yang mahaesa lewat aneka medium dalam semesta. Israel menangkap hal itu karena wahyu yang diterima melalui Musa. Bangsa Mesir tidak menangkapnya, tetapi itu tidak menyatakan bahwa Allah membenci bangsa Mesir (sehingga bangsa Israel juga harus membenci mereka).

Nasihat moral Konfusius mungkin bisa jadi cakrawala untuk memahami bacaan hari ini: kalau orang lain menunjukkan kebaikan, hendaklah kita belajar daripadanya. Kalau orang lain menunjukkan kejahatan, hendaklah kita meneliti diri barangkali kita pun memiliki kualitas kejahatan serupa. Tulah bagi bangsa Mesir sebetulnya juga bisa ditangkap sebagai peringatan bagi bangsa Israel sendiri. Akan tetapi, karena blog ini tak pernah bercita-cita mengumbar nasihat-nasihat moral (yang bisa disampaikan oleh siapapun), baiklah ditekankan bahwa poinnya bukan klaim agama yang harus dibela dengan pertumpahan darah (dan proses ke arah sana), melainkan paham Allah yang lebih manusiawi.

Baiklah diingat kata-kata wong edan dari Nazaret itu: marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah padaku, karena aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang kupasang itu enak dan bebankupun ringan. Capek gak sih “mempertahankan gelar” seumur hidup? Petinju profesional akhirnya melepas gelarnya. Lelah gak sih terus menerus cari intrik untuk mengaktualisasikan diri? Apa ya orang tenang hidupnya kalau senantiasa mengejar kejayaan dirinya, lupa bahwa Allah itu mahabesar?

Tuhan, semoga dalam keunikan agamaku, aku semakin mampu mengenali bagaimana Engkau bekerja juga dalam agama-agama lain. Semoga dalam keunikan diriku, aku juga semakin bisa mengenali bagaimana Engkau menyapaku lewat orang lain. Amin.


HARI KAMIS BIASA XV B/1
16 Juli 2015

Kel 3,13-20
Mat 11,28-30

Posting Tahun Lalu: The Art of the Midwife

4 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s