The Art of the Midwife…

Dalam filsafat Socrates disodorkan istilah maieutike tekne, yang secara literal berarti ‘ilmu bidan’ sebagai teknik untuk menguak kebenaran. Pada diri setiap orang sebenarnya sudah ada pengetahuan kebenaran yang untuk mengeluarkannya dibutuhkan suatu dialog. Tugas pendidik bukanlah pertama-tama menggurui para murid, melainkan ‘menarik keluar’ apa yang ada di dalam diri para muridnya (entah negatif atau positif) melalui dialog supaya akhirnya kebenaran terungkap, sebagaimana bidan membantu perempuan yang hendak melahirkan bayinya.

Kutipan tulisan Yesaya hari ini juga menyodorkan refleksi mengenai Allah, yang bukan saja sebagai penyelamat, melainkan juga sebagai pendidik. Seringkali orang menghabiskan energi yang sangat besar, perencanaan yang sangat handal, dan malah lupa menyerahkan segala upaya dan rencana itu kepada penyelenggaraan Tuhan sendiri. Akibatnya, orang bisa kelelahan juga, burn out. Syukur kalau sebelum sampai pada taraf burn out ini orang sudah datang kepada Yesus: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Akan tetapi, siapa sih yang menjadi sasaran undangan Yesus ini? Para kuli bangunan? Para TKI di luar negeri? Atlet angkat besi? Buruh harian? Kuli angkut?

Ternyata oh ternyata, undangan itu ditujukan kepada semua umat beriman yang menjadi budak aneka hukum agama seperti yang disodorkan oleh ahli-ahli taurat (bdk. Luk 11,46: Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun). Orang yang menghayati iman secara legalistik sebetulnya mengalami kelelahan. Lihatlah para pemain drama di panggung politik nasional: ada yang lelah karena prihatin, tetapi ada juga yang sebenarnya lelah karena harus mencari jalan keluar untuk menutupi kebenaran.

Yang lelah karena prihatin pada umumnya masih terbantu secara mental karena masih percaya pada kekuatan Allah yang lebih besar, bahkan meskipun nantinya presiden yang menentukan. Yang lelah karena munafik, menutup-nutupi kebenaran, kelihatan berat dengan konspirasi dosanya sehingga tampak dalam aneka slip of tongue, tetapi juga aneka ilmu berkelit yang semakin menyudutkan diri sendiri. Mereka tetap menjalankan perintah agama, tetapi ibadah dan ibadatnya itu adalah bagian dari upaya untuk memoles diri (maka disebut penghayatan agama konyol).

09restAlih-alih tinggal dalam kosmetika yang melelahkan, Yesus menawarkan istirahat bagi jiwa orang. Fisik boleh lelah, pikiran pun demikian, tetapi jika orang datang pada Yesus, jiwanya akan mendapat istirahat yang sebenarnya, tidak dihantui oleh aneka beban peraturan (bdk. sakit boleh, menderita jangan). Tentu saja, karena Kristus lemah lembut dan rendah hati. Di hadapan pribadi yang lemah lembut dan rendah hati, orang akan merasa lega dan ringan.


KAMIS BIASA XV
17 Juli 2014

Yes 26,7-9.12.16-19
Mat 11,28-30

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s